RADAR JOGJA – Tragedi tewasnya bocah SD 9 tahun karena terlindas truk pengangkut tanah di kawasan Proyek Strategis Nasional (PSN), Pantai Indah Kapuk 2 (PIK 2),Teluknaga, Tangerang, Banten menyulut emosional warga.
Bentrokan antara warga dan aparat kepolisian pun tak terelakkan.
Video bentrokan ini pun viral di media sosial.
Mengutip akun X @ilhampid (8/11/2024), truk pengangkut tanah bekerja di luar jam operasional yang telah disepakati.
Dalam video yang beredar di media sosial X, dikatakan bahwa bahwa kericuhan ini terjadi akibat peringatan berkali-kali dari masyarakat kepada Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Tangerang tak digubris sehingga amarah warga yang sudah tak terbendung pecah.
Pria dalam video itu juga mengatakan bahwa hal ini juga terjadi akibat gagalnya penegakan peraturan perhubungan.
“Ini hadiah untuk Anda PJ Bupati, hadiah untuk Anda dishub Kabupaten Tangerang yang sudah kami peringatkan berkali-kali, bahwa ketika aksi masyarakat sudah tak terbendung, inilah yang terjadi. Ini karena gagalnya penegakan perhub, penegakkan perhub yang gagal,” kata pria dalam video tersebut.
Awalnya, SD (20) yang tengah mengendarai motor bersama ANP (9) menyalip truk dari kiri sehingga jarak pandang terbatas.
Kecelakaan pun terjadi, SD jatuh ke kiri, sementara ANP jatuh ke kanan, masuk ke kolong truk sehingga kaki kirinya terlindas.
Peristiwa kecelakaan tersebut terjadi di Jalan Raya Salembaran, Kosambi.
Korban yang terluka parah kemudian dilarikan ke RSUD terdekat, sementara sopir truk DWA (21) diamankan polisi dan akan diperiksa lebih lanjut.
Warga Tangerang yang marah akibat kejadian tersebut, kemudian terlibat bentrok dengan Satuan Pengaman Proyek dan aparat kepolisian.
Warga terlihat melemparkan sejumlah batu kepada aparat keamanan dan kendaraan proyek, serta menggunakan kayu panjang sebagai pemukul untuk merusak sejumlah kendaraan proyek.
Akibatnya, sejumlah truk pengangkut tanah pada poyek PSN tersebut menjadi sasaran kemarahan warga mengalami kerusakan yang cukup parah.
Sejumlah anak sekolah dasar juga terlihat berjalan di area sekitar sebagai bentuk solidaritas mereka terhadap korban. (Maya Alfina Meilati)
Editor : Meitika Candra Lantiva