RADAR JOGJA - Pada tanggal 21 Oktober 1987, dunia kedokteran Indonesia mencatat sejarah penting dengan keberhasilan operasi pemisahan kembar siam pertama di Indonesia. Operasi ini dipimpin oleh Prof. Dr. R.M. Padmosantjojo, SpBS (K), seorang ahli bedah saraf yang dikenal dengan ketelitiannya dan keberaniannya dalam mengambil risiko.
Yuliana dan Yuliani, bayi kembar siam yang lahir di Tanjungpinang, Riau, mengalami kondisi kraniopagus, yaitu dempet di bagian kepala. Kondisi ini sangat langka dan menantang, sehingga memerlukan penanganan khusus. Keluarga mereka yang kurang mampu tidak memiliki akses ke perawatan medis yang memadai, namun keberanian dan dedikasi Dr. Padmo mengubah nasib mereka.
Operasi pemisahan ini dilakukan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) dan memakan waktu 13 jam. Tim bedah yang terdiri dari 98 orang, termasuk Dr. Padmo sebagai ketua tim, bekerja tanpa henti untuk memisahkan kepala kedua bayi tersebut. Prosesnya melibatkan penyayatan kulit kepala, pengeboran, dan pengirisan tengkorak serta selaput otak dengan sangat hati-hati. Setelah pemisahan, kepala bayi ditutup dengan tulang penutup tiruan dari semen tulang.
Operasi ini bukan tanpa tantangan. Banyak pihak yang meragukan keberhasilannya, mengingat kompleksitas dan risiko tinggi yang terlibat. Namun, Dr. Padmo dan timnya berhasil membuktikan kemampuan mereka. Keberhasilan operasi ini tidak hanya menyelamatkan nyawa Yuliana dan Yuliani, tetapi juga mendapat perhatian dunia medis internasional. Profesor Mario Brock dari Jerman dan Profesor Becks dari Belanda datang ke Jakarta untuk mempelajari strategi yang digunakan dalam operasi ini.
Atas keberhasilannya, Dr. Padmo menerima banyak apresiasi, termasuk penghargaan dari Menteri Pendidikan saat itu, Fuad Hassan. Beliau juga diangkat sebagai guru besar tetap di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). Keberhasilan ini membuat Dr. Padmo diundang untuk mempresentasikan prinsip pembedahan ini dalam pertemuan ahli bedah saraf dunia di Maroko pada tahun 2005.
Setelah operasi, Yuliana dan Yuliani sempat mengalami beberapa komplikasi, termasuk cedera pada kepala dan infeksi. Namun, dengan perawatan lanjutan dari Dr. Padmo, mereka berhasil pulih dan kini menjalani kehidupan yang lebih baik. Mereka tinggal bersama orang tua mereka yang kini memiliki kehidupan lebih stabil berkat bantuan dari para sponsor dan Departemen Sosial.
Kisah kemanusiaan Dokter Padmo tidak berhenti sampai disitu. Beliau juga diketahui tidak menarik biaya sepeserpun kepada pasiennya, bahkan rela mengeluarkan biaya pribadi untuk kebutuhan operasi. Dedikasinya yang tinggi terhadap profesi dan kemanusiaan membuat sosoknya semakin dikagumi.
Keberhasilan operasi pemisahan kembar siam pertama di Indonesia oleh Dr. Padmosantjojo adalah bukti nyata dedikasi, keberanian, dan keahlian dalam dunia kedokteran. Kisah ini tidak hanya menginspirasi banyak orang, tetapi juga menunjukkan bahwa dengan tekad dan kerja keras, tantangan sebesar apapun dapat diatasi.
(Rifqa Fitria Nafisa)
Sumber: Berbagai Sumber