Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Ajarkan Baca-Tulis Aksara Jawa, Kenalkan Metode Ngapak)

Editor Content • Kamis, 25 Mei 2023 | 11:18 WIB
Photo
Photo
 

RADAR JOGJA - Dengan Cara Ngapak, metode pembelajaran aksara Jawa yang dicetuskan oleh pakar aksara Jawa, Ahmad Fikri AF, baca-tulis aksara Jawa menjadi sangat mudah. Tak lagi menghafal. Tapi mengajak para siswa untuk belajar dengan bergembira.

 

Fikri, panggilan akrabnya, pria asli Betawi yang memiliki latar belakang santri dari pondok pesantren terkenal itu membagikan metodenya kepada guru-guru pelajaran Bahasa Jawa, Rabu (24/5), di SMP Maarif Gamping Sleman.”Salah satu problematika pembelajaran aksara Jawa itu pada metode, karena dari dulu sifatnya hanya hafalan, digabung dengan pelajaran bahasa dan sastra Jawa sekaligus. Terjadilah perang nalar di kalangan siswa,” ucap Fikri pada acara Sosialisasi Perda DIJ Nomor 2 Tahun 2021 tentang Pemeliharaan dan Pengembangan Bahasa, Sastra dan Aksara Jawa.

 

Melalui kegiatan yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan DIJ bekerja sama dengan anggota Komisi D DPRD DIJ dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Syukron Arif Muttaqin, sambil berkelakar Fikri menjelaskan belajar aksara Arab dijamin masuk surga, belajar aksara Latin menjadi pintar. “Belajar aksara Jawa dapat apa?” ujarnya bercanda.

 

Artinya, ke depan khusus di DIJ, jangan berharap bisa menjadi seorang lurah apabila tidak mampu baca tulis aksara Jawa. Bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) juga jangan berharap bisa mudah naik pangkat jika tidak bisa baca tulis aksara Jawa. Dengan kata lain, kemampuan baca tulis aksara Jawa menjadi salah satu syarat naik pangkat. Apalagi bagi Abdi Dalem Keraton Jogjakarta ,itu sangat mutlak.“Ciri penting Keistimewaan DIJ adalah Aksara Jawa. Bahasa bisa berubah (hilang). Kosa kata bahasa Jawa tiga abad yang lalu tidak sama dengan sekarang, karena banyaknya serapan kata-kata asing,” kata Fikri yang juga inisiator berdirinya Kampung Aksara Jawa di Bintaran Wetan 06 Srimulyo Piyungan Bantul itu.

 

Dijelaskan, salah satu keunggulan sekaligus ciri khas aksara Jawa adalah tidak adanya titik koma maupun tanda seru seperti halnya aksara Latin. Dengan sendirinya orang yang belajar aksara Jawa sekaligus belajar olah rasa. Bukan rahasia lagi, aksara Jawa sangat kental mengandung filosofi tingkat tinggi.

 

Menurut Fikri, fakta saat ini di DIJ pelajar dari tingkat Sekolah Dasar (SD) sampai SMA yang bisa dengan sangat lancar baca-tulis aksara Jawa adalah nol persen. Ini menjadi keprihatinan sekaligus tantangan bagi para guru. “Banyak guru bilang, kenapa metode ini (Cara Ngapak) tidak dari dulu. Metode saya ini haram hukumnya menghafal tetapi pahami metodenya. Jadi, sangat laduni,” kata dia.

 

Yang terpenting, pesan Fikri, memulai pelajaran aksara Jawa anak dibuat harus dibuat gembira. Jangan paksa mereka dengan hafalan. Anak-anak sekarang adalah generasi visual, setiap hari pegang handphone. “Hafalan bisa lupa tetapi kalau memahami metodenya maka tidak akan lupa,” kata dia.

 

Begitu memahami metode Cara Ngapak, lanjut dia, dengan sendirinya siapa pun akan hafal 20 aksara dasar Jawa. Metode ini sudah teruji serta memperoleh penghargaan terbaik pada ajang olimpade siswa tingkat nasional. Fikri menambahkan, seseorang yang mahir baca tulis aksara Jawa dengan sendirinya akan mudah membaca maupun memahami naskah-naskah kuno yang ditulis dengan aksara Kawi.

 

Syukron Arif Muttaqin menambahkan, Perda DIJ Nomor 2 Tahun 2021 tentang Pemeliharaan dan Pengembangan Bahasa, Sastra dan Aksara Jawa merupakan inisiatif DPRD DIJ.Sewaktu raperda tersebut dibahas di dewan, Syukron duduk sebagai ketua panitia khusus (pansus). Perda ini lahir dari keprihatinan DPRD DIJ terhadap masa depan budaya Jawa di DIJ.

 

Dari sosialisasi kali ini, lanjut Syukron, diketahui ternyata metode pembelajaran aksara Jawa berbeda-beda dan kurang tepat. Tidak ada standardisasi. Padahal, dengan metode Cara Ngapak sangat simpel, anak-anak maupun orang dewasa menjadi senang belajar aksara Jawa. Dia mengusulkan jam pembelajaran bahasa Jawa ditambah dari dua jam menjadi empat jam. Selain itu, kurikulumnya juga dibuat sama. “Anak-anak SD jangan dibebani beban berat, dibuat riang gembira dan senang dulu belajar aksara Jawa,” kata Syukron. (cr2/pra)

 

  Editor : Editor Content
#Dinas Kebudayaan (Disbud) DIJ #pelestarian Aksara Jawa