Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Sarung Goyor Cap Botol Terbang Diminati hingga Timur Tengah

Editor Content • Rabu, 26 April 2023 | 20:17 WIB
MERIAH: Para nominasi terbaik tampak berjajar usai mendapat penghargaan pada Diskominfo Award pada Penganugerahan Video BUMDes Kabupaten Magelang, Selasa (2/8).(ISTIMEWA)
MERIAH: Para nominasi terbaik tampak berjajar usai mendapat penghargaan pada Diskominfo Award pada Penganugerahan Video BUMDes Kabupaten Magelang, Selasa (2/8).(ISTIMEWA)
RADAR JOGJA - Sarung goyor cap Botol Terbang memiliki kualitas dan nilai seni yang tinggi. Tak heran jika sarung besutan dari industri rumahan di Kelurahan Potrobangsan, Magelang Utara ini memiliki penggemar tersendiri. Terutama dari kalangan menengah ke atas. Bahkan, sudah tersohor hingga ke Timur Tengah.

Proses pembuatan sarung ini masih tergolong sederhana karena menggunakan alat tradisional. Atau alat tenun bukan mesin (ATBM) yang dioperasikan dengan tenaga manusia. Namun, dengan pilihan bahan baku dan pewarna yang terbaik, membuat sarung jenis ini berbeda dengan lainnya. Motif serta corak yang timbul, lebih eksklusif dan terbatas. Lantaran tidak diproduksi secara massal.

Perajin sarung goyor Umar Saleh Al Katiri menuturkan, industri rumahan ini sudah ada sejak tahun 1950-an. Setelah Indonesia merdeka. Dia merupakan generasi ketiga yang melanjutkan produksi sarung tersebut. Nama Botol Terbang diyakini sudah melekat sejak kakek buyutnya membuat sarung itu. Merek yang terdengar aneh, tapi kualitasnya nomor satu.

Meski dengan peralatan tradisional, dia mengakui, bahan baku hingga pewarna yang digunakan merupakan kualitas yang terbaik. "Karena proses pengerjaannya terbilang paling rumit dibanding sarung dari Pemalang, Pekalongan, dan lainnya," bebernya saat ditemui, beberapa waktu lalu.
Hanya saja, produksinya masih terbatas karena menggunakan tenaga manusia. Proses pengeringannya juga mengandalkan matahari. Dia pun tidak bisa memaksa karyawannya untuk memproduksi dalam jumlah yang banyak. Karena memang sesuai kemampuan masing-masing.

Di tengah gempuran canggihnya teknologi, Umar tetap mempertahankan alat tradisional. Justru dengan begitu, dia mengaku tidak takut dengan persaingan dari luar. Karena semakin banyak pabrik yang memproduksi sarung, semakin banyak pula suku cadang yang dijual.

Dengan begitu, dia tidak akan kesulitan manakala ada suku cadang mesin tenunnya yang perlu diganti. "Kalau pakai alat modern, semua orang bisa buat. Mereka juga tahu kalau dengan alat tradisional bisa laku, tapi tidak mau produksi karena (proses pembuatannya) lama. Dari benang ke sarung hampir dua bulan," ujarnya.

Sarung goyor termasuk sarung yang banyak dikoleksi dari kalangan tertentu, seperti kiai, pengusaha, bahkan umat muslim di negara-negara Timur Tengah. Termasuk Dubai dan Arab Saudi. Namun, untuk penjualan, tidak dilakukan secara langsung kepada konsumen. Melainkan dari pihak ketiga di Solo.

Pabrik sarung goyor cap Botol Terbang ini bisa dibilang menjadi satu-satunya industri yang masih mempertahankan penggunaan ATBM. Dalam produksi, ada lebih dari 20 pekerja yang bekerja di sana. Kebanyakan adalah ibu-ibu yang hampir menginjak kepala lima. Kendati begitu, tenaga dan kegigihannya tak diragukan lagi. Justru akan kalah jika disandingkan dengan kelompok remaja.

Proses pembuatan satu lembar kain, lanjut dia, membutuhkan setidaknya 13 tahapan selama kurang lebih 15 hari. Proses pembuatannya pun terbilang rumit. Membutuhkan ketekunan, ketelitian, dan kesabaran agar menjadi selembar kain sarung yang layak jual.

Untuk tahap awal pembuatan sarung dimulai dari pemilihan bahan baku. Seluruh bahan baku, terutama benang dan pewarna sintetis diimpor dari Tiongkok, India, Jepang, maupun China. Bahan baku yang dipakai berjenis katun dan dikombinasikan dengan sutra. "Kami pernah coba pakai benang dan pewarna lokal, tapi hasilnya kurang bagus. Istilahnya jadi mengerut," jelas dia.

Setelah itu, mendesain pola, pemintalan benang, pewarnaan, tenun, penjemuran, sampai pengemasan dan pengiriman. Bahkan, untuk mendapatkan warna putih dalam satu pintal benang, harus diikat terlebih dahulu. Agar saat proses pewarnaan, tidak tercampur dengan warna lain.
Lantaran menggunakan alat tenun sederhana dan dilakukan dengan tenaga manusia, dalam sebulan, produksi sarung goyor mencapai 100 buah. Tapi, bisa jadi kurang karena menyesuaikan kemampuan masing-masing pekerja.

Dengan proses yang panjang dan tidak diproduksi secara masal, tak heran jika satu lembar kain sarung dibanderol dengan harga yang mahal. Bisa mencapai angka Rp 700 ribu ke atas. Memang pantas jika target pasarnya adalah para kyai, pengusaha, maupun masyarakat kalangan menengah ke atas.
Di pasaran lokal, sarung goyor Botol Terbang juga dijual terbatas. Hanya toko Bares dan Trio di kawasan Pecinan, Kota Magelang, serta satu toko lainnya di Muntilan yang menjual sarung ini. "Khusus kami setorkan ke tiga toko itu. Kalau toko lain, berarti ngambil dari situ," sebutnya.

Adapun motif sarung yang diproduksi beragam. Ada motif Prapatan, Tejo, Kolong Satu, Kolong Dua, Sidomukti, Putihan, Kotak, serta yang paling banyak peminatnya, yakni motif Kawung. Sumadiyo optimistis, sarung goyor cap Botol Terbang inj tetap akan dicari di pasaran. Kualitasnya jelas berbeda dengan produk sarung merek lainnya. (aya/pra) Editor : Editor Content
#Sarung goyor