Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Awalnya Ingin Abadikan Hewan Peliharaan dengan Cara Tak Biasa

Editor Content • Senin, 1 November 2021 | 18:19 WIB
KEREN: Yudhi Kuriawan, 27, warga Pakualaman, Jogja, menunjukkan hasil kreativitas yang geluti sebagai bisnis taksidermi di rumahnya.(MEITIKA CANDRA LANTIVA/RADAR JOGJA)
KEREN: Yudhi Kuriawan, 27, warga Pakualaman, Jogja, menunjukkan hasil kreativitas yang geluti sebagai bisnis taksidermi di rumahnya.(MEITIKA CANDRA LANTIVA/RADAR JOGJA)
RADAR JOGJA - Ini bukan patung. Tapi hewan asli yang diawetkan. Ada ikan, kura-kura, merak, burung, dan hewan lainnya. Namanya taksidermi. Begitu Yudhi Kurniawan menunjukkan kepada Radar Jogja bisnis yang digelutinya hampir lima tahun terakhir.

MEITIKA CANDRA LANTIVA, Jogja, Radar Jogja

Yudhi merupakan pecinta hewan. Suatu ketika, hewan peliharaannya mati. Tak puas dengan hanya mengabadikan melalui foto, dia pun berinisiatif dengan cara lain yang tak biasa. Yaitu taksidermi. Seni pengawetan dan pengolahan jasat hewan.

Cerita Yudhi mengawetkan hewan mati ini dimulai sejak 2016. Dia membeli unggas impor sejenis ayam untuk dipelihara. Kecintaanya terhadap binatang golden pheasant saat itu dia bertekad mengembangbiakkannya. Dia menjalin relasi sesama penghobi hewan yang sama.

Suatu ketika terdampak cuaca ekstrem. Sehingga hewan yang kerap disebut Peger Pelangi itu mendadak mati. Tidak hanya hewan miliknya, mMelainkan juga milik koleganya.

Awalnya, ketika mati hanya dikubur biasa. Lalu timbul perasaan sayang dan dia mencari ide agar bagaimana jasadnya bisa diawetkan. “Saya banyak berguru kepada teman, lalu juga lihat tayangan Youtube,” ungkap Yudhi kepada Radar Jogja (17/10).

Kemudia dengan modal nekat dia mencoba-coba. Menambahkan cairan kimia untuk mengawetkan. Awalnya hanya hewan peger miliknya. Lalu berlanjut hewan yang sama, milik koleganya itu.
Suatu ketika hasil pengawetan itu dia posting di media sosial (medsos) dan mendapatkan respons positif. Dia mulai banjir orderan. Mantap dia menggeluti bisnis ini. Sebab, dinilai menjanjikan.

“Prinsip saya saat, pengerjaan meskipun hewan milik orang lain dan dalam kondisi tidak bernyawa, saya perlakukan seperti hewan kesayangan sendiri ketika masih hidup,” ungkap Yudhi, pria 27 tahun asal Pakualaman, Jogja, itu. Dengan begitu, dia lebih menjiwai dalam proses pengerjaannya.

Prosesnya, menurut Yudhi, cukup simpel. Tetapi membutuhkan ketelatenan dan dilakukan secara profesional. Dimulai dari pembersihan, lalu proses otopsi atau pembedahan. Kemudian dikeluarkan bagian organ dalam. Isi perut, otak, hingga daging sebagian.

Selanjutnya dibersihkan lagi dan direndam dalam larutan kimia beberapa hari. Tergantung dengan karakter kulit hewan, ketebalan kulit, dan ukuran hewan. Atau juga bisa melalui suntik kimia bila hewan berukuran kecil.
“Untuk proses pengeringannya beragam. Terutama untuk ikan, harus sangat berhati-hati agar tubuhnya tidak melengkung seperti saat digoreng,” kata pria berkulit sawo mateng itu. Khusus ikan, karena memiliki pori kulit dan kadar lemak tinggi, maka sebaiknya proses pengeringan sebatas di angin-anginkan saja.

Tahap selanjutnya proses pembentukan pose. Sebelum memastikan cairan kimia benar-benar mengering, pose hewan dibentuk. Pemilihan pose ini diusahakan mirip pose aslinya. “Menyesuaikan pose natural hewan agar tampak lebih hidup,” katanya.

Untuk hewan yang kehilangan warna pigmen kulitnya, akan dipoles kembali dengan warna cat. Dilukis lagi seperti wujud aslinya. Bila mana dari pemesan menghendaki dikombinasikan dengan produk kerajinan lain, bisa. Sekadar pengawetan hingga menjadi benda kerajinan bernilai tinggi.

Berbagai macam hewan dia awetkan. Ada jenis unggas seperti ayam, burung, dan bebek. Lalu reptil seperti biawak. Merak bukan dilindungi, berbagai macam kura-kura, ikan hias, kelinci, musang dan lain-lain. “Ada juga hewan dilindungi. Tetapi itu atas permintaan dari museum satwa yang memang sudah jelas izinnya,” katanya.

Kendati hanya dijadikan pekerjaan sampingan, pria satu anak ini mengaku bisnis jasa ini cukup menjanjikan. Jasa pengawetan dibanderol kisaran Rp 100 ribuan hingga puluhan juta. Peminatnya dari berbagai wilayah, namun cenderung lokal Indonesia. Mulai peminat pribadi hingga dari museum.

Dalam menggeluti bisnisnya, dia mengaku tak ada persoalan terkait pengadaan bahan kimianya. Karena tujuan jelas dan bukan untuk disalahgunakan. Menurutnya, apa yang dia geluti ini sebagai upaya edukasi masyarkat. Khususnya anak-anak saat ini dalam mengenal jenis-jenis satwa. Karena telah banyak satwa-satwa yang hampir punah. (laz) Editor : Editor Content
#Medsos #Jogja