Plafon di tujuh ruang kelas lantai dua sekolah tersebut ambrol. Selain itu, aula, halaman lantai dua, ruang laboratorium komputer, dan bahasa juga terdampak plafon yang ambrol.
Kepala sekolah SMP Negeri 1 Jetis Muhammad Wantoro mengatakan, Total plafon yang ambrol sebanyak 139 buah. Selain plafon, retakan kecil dibeberapa dinding ruangan juga terlihat.
“Tapi alhamdulilah pagi tadi sudah kita bersihkan, dan jam pertama sudah bisa digunakan untuk pembelajaran,” jelasnya saat ditemui di SMP Negeri 1 Jetis Jumat (6/2).
Pihaknya juga telah berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan, Olahraga, dan Kepemudaan (Dikpora) Bantul, bahwa ruang kelas SMPN 1 Jetis masih layak digunakan untuk pembelajaran mengajar dan terlihat tidak membahayakan siswa, walaupun beberapa plafon telah ambrol.
“Nominal kerusakan kisaran Rp 200 juta,” katanya.
Ia mengatakan, kerusakan ringan akan diperbaiki sendiri, sedangkan untuk perbaikan kerusakan yang cukup besar pihaknya masih menunggu anggaran, karena kerusakan tersebut bersifat darurat. Maka dari itu, belum tersedia anggaran.
“Mungkin akan kita anggarkan dari BOS atau Bosda, syukur-syukur dari dinas atau BPBD ada anggaran untuk membantu kami, kami akan sangat berterima kasih,” harapnya.
Sementara itu, Siswa kelas delapan Aulina Anjani merasa terganggu terdapat plafon yang ambrol di kelasnya. Namun ia mengaku masih bisa fokus belajar.
“Harapannya cepat bisa diperbaiki biar siswa bisa lebih fokus belajar,” harap siswa berumur 15 tahun itu.
Terpisah, Sekretaris Daerah Pemerintah Kabupaten Bantul Agus Budi Rahardjo mengatakan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Bantul akan mengidentifikasi dan menghitung kerusakan di SD Negeri Jetis dan SMP Negeri 1 Jetis akibat dampak dari gempa untu segera diperbaiki.
Agar tidak mengganggu layanan pendidikan dan proses belajar mengajar.
“Tidak boleh layanan pendidikan terhenti karena peristiwa ini,” tuturnya. (cin)
Editor : Bahana.