Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Dosen Gizi Ingatkan Anak yang Makin Jarang Bergerak, Risiko Obesitas Kian Besar

Fahmi Fahriza • Minggu, 1 Februari 2026 | 22:31 WIB
Kurnia Maratus Solichah, Dosen Program Studi Gizi, Fakultas Ilmu Kesehatan Unisa Jogjakarta
Kurnia Maratus Solichah, Dosen Program Studi Gizi, Fakultas Ilmu Kesehatan Unisa Jogjakarta

 

 

JOGJA - Kasus obesitas pada anak dan remaja kian menjadi persoalan serius, termasuk di DIJ. Perubahan pola makan ke arah makanan siap saji dan kemasan, minimnya aktivitas fisik, serta gaya hidup modern dinilai menjadi faktor utama meningkatnya kondisi tersebut.


Dosen Program Studi Gizi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Aisyiyah (Unisa) Jogjakarta Kurnia Maratus Solichah menjelaskan, obesitas bisa terjadi akibat ketidakseimbangan energi. Yakni asupan makanan yang lebih besar dibandingkan energi yang dikeluarkan melalui aktivitas harian.


"Tanpa disadari saat ini terjadi pergeseran pola konsumsi. Anak dan remaja lebih banyak mengonsumsi makanan siap saji yang tinggi lemak, sehingga kebutuhan energi menjadi tidak seimbang," ujarnya kepada Radar Jogja, Minggu (25/1).


Selain pola makan, meningkatnya screen time juga berkontribusi besar. Aktivitas anak yang didominasi duduk, ditambah berkurangnya permainan di luar rumah akibat maraknya game daring, membuat energi yang dikeluarkan semakin sedikit.


Menurut Kurnia, pola makan modern tidak hanya identik dengan fast food, tetapi juga konsumsi makanan kemasan yang kian meningkat. "Makanan kemasan umumnya telah melalui proses pemasakan berulang. Jadi kandungan nutrisinya berkurang dan cenderung tinggi gula serta lemak," jelasnya.


Dampak obesitas pada anak dan remaja tidak hanya dirasakan dalam jangka panjang, tetapi juga jangka pendek. Penurunan tingkat kebugaran dapat memengaruhi sistem imunitas, sehingga anak menjadi lebih mudah sakit.


Dalam jangka panjang, obesitas yang tidak tertangani berisiko menjadi akar penyakit tidak menular seperti diabetes, hipertensi, hingga kolesterol tinggi. Ia mengutip sebuah penelitian yang menunjukkan adanya peningkatan signifikan kasus diabetes melitus tipe 2 pada remaja dalam dua dekade terakhir, terutama di wilayah dengan prevalensi obesitas tinggi.


Kurnia menegaskan, obesitas yang terjadi sejak usia anak berpotensi berlanjut hingga dewasa dan lebih sulit ditangani. Hal ini disebabkan pola makan dan aktivitas fisik yang telah menjadi kebiasaan. "Perubahannya tidak bisa instan. Butuh kesabaran dan konsistensi. Banyak yang menyerah karena ingin hasil cepat," sesalnya.


Ia menilai peran orang tua dan sekolah sangat krusial dalam upaya pencegahan sejak dini. Anak masih sangat bergantung pada lingkungan rumah, sehingga pola makan dan aktivitas fisik orang tua akan menjadi contoh utama. Di sisi lain, sekolah dinilai sudah cukup mendukung melalui alokasi waktu olahraga.


Untuk menekan angka obesitas, Kurnia menyarankan langkah-langkah realistis yang bisa dilakukan keluarga, seperti makan bersama minimal satu kali sehari dengan gizi seimbang. Kemudian berolahraga bersama anak di akhir pekan, serta menyediakan camilan sehat berupa makanan alami seperti buah, kacang-kacangan, atau telur rebus.


Adapun peran pemerintah daerah, antara lain, menyediakan ruang terbuka hijau sebagai sarana aktivitas fisik, serta mendorong semua institusi penyedia makanan anak sekolah untuk meminimalkan makanan kemasan tinggi gula dan lemak.


"Anak adalah cerminan orang tua. Edukasi pola makan dan aktivitas fisik sehat harus dimulai dari rumah. Perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten akan memberikan dampak besar," tambahnya. (iza/laz)

Editor : Sevtia Eka Novarita
#tinggi gula #Pola Konsumsi BBM dan LPG #Gaya Hidup #fast food #obesitas