RADAR JOGJA - Keberadaan limbah kayu dapat berguna dan bernilai ekonomi ketika berada di tangan yang tepat. Dengan mengusung tagline 'Limbah Ramah Lingkungan', Purwanto bisa menghasilkan berbagai macam kerajinan dari bahan dasar limbah kayu. Lebih-lebih, hasil karyanya bisa tembus pasar internasional.
NAILA NIHAYAH, Mungkid
Pensil-pensil dengan bahan dasar kayu itu ditata rapi di sebuah tatakan kayu setengah lingkaran. Belum dikemas plastik. Disusun secara berdiri dan bertumpuk ke atas. Uniknya, ada berbagai jenis karakter pada pensil tersebut. Dibuat menyerupai boneka, lengkap dengan kepala dan aksesori lainnya.
Pensil berbentuk boneka kayu itu memiliki kepala yang terbuat dari biji nyamplung. Ditambah dengan rambut maupun penutup kepala. Kemudian, dihias dengan pakaian adat nusantara dan konvensional. Hal itu bertujuan mempromosikan kekayaan budaya khas Indonesia.
Selain pensil, ada juga gantungan kunci berbahan kayu, lengkap dengan kostumnya. Beberapa pekerja pun tampak tekun dan fokus menempelkan aksesori tersebut. Menyatukan satu persatu topi, rambut, hingga baju. Ditambah dengan membuat mata, alis, hidung, dan mulut pada gantungan itu.
Sedangkan di dalam toko, ada berbagai jenis kerajinan berbahan dasar limbah kayu yang tersusun rapi. Tidak hanya pensil dan gantungan saja, tapi juga mobil-mobilan, wayang, pulpen, topeng, dan masih banyak lagi. Aneka jenis kerajinan itu tentu membuat siapapun ingin memborongnya.
Tempat itu bernama Galeri Kriya Kayu Rik Rok yang berada di Dusun Tingal Kulon, Wanurejo, Borobudur. Kriya Kayu Rik Rok merupakan nama brand lokal yang memproduksi kerajinan berbahan dasar limbah ramah lingkungan, khususnya kayu. Produk rintisan dan unggulannya adalah pensil gaul.
Baca Juga: Tingkatkan Kreativitas dan Wadah Kreasi Anak
Bahkan, brand lokal ini sudah berkembang pesat dan melebarkan sayap ke pasar internasional, seperti Spanyol hingga Australia. Pemilik galeri bernama Purwanto membeberkan, usaha tersebut sudah dirintis sejak akhir 1997 lalu atau saat krisis moneter (krismon). "Dulu, kami kerja di sebuah hotel. Tapi, terdampak krismon dan kena PHK," jelasnya saat ditemui, Rabu (27/6/23).
Saat itu, dia bersama teman-temannya diberi dua pilihan. Antara berhenti atau melanjutkan pekerjaannya di hotel tersebut. Namun, mereka memilih berhenti dan mendapat pesangon sekitar Rp 750 ribu. Mereka pun bingung hendak melakukan apa. Akhirnya, pilihan jatuh pada usaha produk kerajinan (craft).
Kerajinan yang dibuat berbahan dasar fiber impor berupa miniatur prambanan dan borobudur berbentuk patung-patung. Namun, karena dampak krismon, membuat harga fiber ikut naik. Di satu sisi, mereka harus menghasilkan uang demi bertahan hidup.
Lantas, dia melirik limbah kayu. Terlebih, berdasarkan hasil survei, limbah kayu yang ada di Borobudur hanya dimanfaatkan oleh sebagian kecil masyarakat. Hanya sekitar 10 persen. Kondisi tersebut jelas memunculkan peluang bisnis besar bagi Ipung, sapaan akrabnya.
Nama Rik Rok ini diambil dari dua versi. Pertama, saat ia memiliki pesanan dari Spanyol berupa gasing dengan bahan baku berupa kayu berbentuk segitiga bertuliskan Rik Rok. Kedua, saat ia mengikuti pameran Inacraft di Jakarta, ia mendapat masukan bahwa filosofi Rik Rok lebih menarik jika diambil dari suara jangkrik atau suara alam.
Ipung pun memikirkan ulang folosofi nama tersebut. Akhirnya, pada 2010, dia mendaftarkan kerajinannya pada Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI), Kemenkumham. Di dunia ada tiga penggunaan nama brand tersebut. Rik Rok sebagai kriya kayu di Borobudur, Rik Rok di Amerika sebagai alat musik, dan Rik Rok sebagai musisi.
Sebetulnya, ada lebih dari 60 karya yang dihasilkan. Namun, produk unggulan Kriya Kayu Rik Rok ini adalah pensil gaul. Pensil tersebut masih eksis meski zaman terus berkembang. Pensil ini dibuat layaknya boneka ditambah dengan kepala yang berasal dari biji nyamplung. Kemudian, dihiasi dengan menggunakan pakaian adat nusantara.
Dengan mengusung tagline 'Limbah Ramah Lingkungan', usaha kerajinan itu hingga kini terus berkembang. Dia juga kerja sama dengan para perajin lain hingga hotel. Untuk hotel, produknya memang dibuat secara khusus. Sesuai permintaan. Tidak diproduksi secara massal dan diperjualbelikan kepada masyarakat umum.
Selain itu, ia juga bekerja sama dengan Batik Keris. Pensilnya dari manajemen, Ipung hanya bertugas untuk menghiasnya. Kemudian, dijual di seluruh gerainya di Indonesia. "Kami juga kerja sama dengan Joger. Sejak pandemi, toko Joger di Bali belum pernah order lagi," terangnya.
Pandemi memang membawa dampak begitu besar bagi seluruh sektor. Termasuk sektor kerajinan. Kendati begitu, Ipung terus berupaya agar galeri miliknya tidak mati dan terus memproduksi. Namun, hasil produksinya memang berkurang. Dari yang semula 1.000-2.000 biji per seminggu, menjadi 500 biji. Sesuai kebutuhan.
Di sisi lain, galeri ini memang kerap menjadi jujugan wisatawan, baik personal maupun rombongan dari berbagai daerah. Karena selain mewarkan produk-produknya, galeri ini membuka wisata edukasi kepada wisatawan maupun anak-anak sekolah yang ingin belajar mewarnai hingga membatik.
Dalam penjualanya, ia membanderol harga yang berbeda-beda. Tergantung jenis dan tingkat kesulitannya. Ia biasa menjual pensil dengan harga mulai Rp 3.500 hingga Rp 25 ribu. Namun, dia belum menjual kerajinannya lewat marketplace. Hanya melalui Grab Merchant.
Dengan hadirnya usaha kreatif ini, dia berharap, dapat memberikan contoh bagi pelaku usaha lainnya untuk terus berkarya. Serta mengembangkan produk lokal sebagai salah satu daya tarik pariwisata Kabupaten Magelang. "Sejak ada Kurikulum Merdeka, banyak siswa yang datang ke sini untuk outing class," sebutnya.(pra)
Editor : Satria Pradika