Pengetahuan terkait budaya terutama budaya Jogja menjadi bekal bagi para Dimas Diajeng. Terlebih mereka memiliki peran sekaligus sebagai duta pariwisata. Apalagi pariwisata Jogja berbasis budaya."Saya berharap Dimas Diajeng Jogja menjadi bagian dari agen promosi pariwisata maupun budaya,” ujarnya.
Singgih meminta 30 finalis Dimas Diajeng harus bisa meneladani kegeniusan Sri Sultan HB I. Pendiri Keraton Jogja yang menggagas sumbu Filosofi Jogja sebagai konsep penataan tata ruang yang merupakan perwujudan dari simbol daur hidup manusia.
"Harus punya jiwa yang nyawiji atau fokus, greget itu semangat, sengguh tidak pantang menyerah, ora mingkuh itu artinya tidak gampang berbelok,” jelasnya.
Pada saat pembekalan finalis, Singgih sempat menguji kemampuan pengetahuan budaya kepada beberapa perwakilan finalis. Singgih menguji makna falsafah Hamemayu Hayuning Bawana dan sumbu filosofi Jogja. Para finalis menjawab dengan penuh antusias dan saling melengkapi."Ini adalah sebuah cara bagaimana saya mengetahui knowledge seseorang tentang budaya," imbuhnya.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Jogja Wahyu Hendratmoko mengatakan total pendaftar ada 115 peserta mendaftar Dimas Diajeng Kota Jogja tahun 2023. Setelah melalui seleksi administrasi, wawancara, dan tes psikologi, kemudian diambil 30 orang finalis. Terdiri dari 15 Dimas dan 15 Diajeng. “Saat ini masuk tahap pembekalan untuk memberikan tambahan kompetensi dalam pelaksanaan ketugasan Dimas Diajeng Kota Jogja," ujarnya. (lan/din/sat).
Editor : Satria Pradika