Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Benarkah Begadang Bisa Diganti dengan Tidur Siang? Ini Faktanya

Bahana. • Rabu, 25 Maret 2026 | 12:01 WIB

Ilustrasi tidur siang (Pinterest).
Ilustrasi tidur siang (Pinterest).
Begadang sudah menjadi kebiasaan yang semakin lazim di tengah masyarakat modern.

Tuntutan pekerjaan, tugas akademik, hingga kebiasaan menghabiskan waktu dengan gawai membuat banyak orang tidur larut malam.

Untuk mengatasi rasa lelah, tidur siang kerap dijadikan solusi praktis. Namun, muncul pertanyaan penting: benarkah begadang bisa diganti dengan tidur siang?

Begadang pada dasarnya adalah kondisi kurang tidur malam yang mengganggu ritme biologis tubuh.

Tidur malam bukan sekadar waktu istirahat, melainkan fase penting bagi tubuh untuk melakukan pemulihan fisik dan mental.

Dilansir dari Kementerian Kesehatan RI, kurang tidur dapat berdampak pada penurunan daya tahan tubuh, gangguan konsentrasi, perubahan suasana hati, hingga meningkatkan risiko penyakit metabolik dalam jangka panjang.

Artinya, begadang bukan hanya soal rasa kantuk keesokan harinya, tetapi menyangkut kesehatan secara menyeluruh.

Secara biologis, tidur malam memiliki fungsi yang tidak sepenuhnya bisa digantikan oleh tidur siang.

Pada malam hari, tubuh memasuki fase tidur dalam dan tidur Rapid Eye Movement (REM) yang berperan penting dalam perbaikan sel, penguatan daya ingat, serta pengaturan hormon.

Fase-fase ini bekerja selaras dengan ritme sirkadian yang dipengaruhi oleh siklus terang dan gelap, sehingga kualitas tidur malam cenderung lebih optimal dibanding tidur di siang hari.

Tidur siang sendiri sebenarnya bukan kebiasaan yang keliru. Tidur siang singkat dapat membantu mengurangi rasa kantuk dan meningkatkan kewaspadaan dalam jangka pendek.

Namun, manfaat tersebut bersifat sementara dan tidak menyentuh fungsi pemulihan tubuh secara menyeluruh. Tidur siang lebih tepat dipahami sebagai pelengkap, bukan pengganti tidur malam.

Hal ini ditegaskan dalam penelitian berjudul Effects of Multiple Naps Versus Nocturnal Sleep on Sleep Pressure (2021).

Studi tersebut menunjukkan bahwa beberapa kali tidur siang dalam satu hari tidak mampu menurunkan tekanan tidur (homeostatic sleep pressure) seefektif tidur malam yang utuh.

Dengan kata lain, meskipun tubuh sempat beristirahat melalui tidur siang, kebutuhan biologis akan tidur malam tetap belum terpenuhi secara optimal.

Dalam praktik sehari-hari, tidur siang tetap dapat dimanfaatkan secara bijak, terutama ketika seseorang terpaksa begadang sesekali.

Durasi tidur siang yang ideal berkisar antara 15–30 menit dan dilakukan pada awal siang.

Tidur siang yang terlalu lama atau terlalu sore justru berisiko mengganggu kualitas tidur malam berikutnya.

Kesimpulannya, begadang tidak bisa sepenuhnya “dibayar” dengan tidur siang.

Tidur siang memang membantu mengurangi rasa lelah sementara, tetapi tidak mampu menggantikan fungsi biologis tidur malam.

Untuk menjaga kesehatan jangka panjang, tidur malam yang cukup dan berkualitas tetap menjadi kebutuhan utama yang tidak bisa ditawar.

Penulis: Ferry Aditya

Editor : Bahana.
#begadang #tidur siang