RADAR JOGJA - Setiap perayaan Tahun Baru Imlek, satu tradisi selalu mencuri perhatian, apalagi kalau bukan angpao.
Bagi banyak orang, terutama anak-anak, amplop merah ini identik dengan uang dan kegembiraan.
Namun di balik nominal yang tersimpan di dalamnya, angpao sejatinya menyimpan filosofi berbagi yang jauh lebih dalam dan sarat makna budaya.
Dalam tradisi Tionghoa, angpao bukan sekadar pemberian materi.
Tetapi menjadi simbol doa, restu, dan harapan baik yang mengalir dari generasi yang lebih tua kepada yang lebih muda.
Warna merah pada amplop dipilih bukan tanpa alasan, warna merah dipercaya melambangkan keberuntungan, kebahagiaan, sekaligus perlindungan dari energi negatif.
Nilai angpao justru tidak diukur dari besar kecilnya uang.
Yang lebih penting adalah niat berbagi rezeki dan menyebarkan energi positif di awal tahun baru.
Karena itu pula, angka dalam angpao sering diperhatikan.
Angka 8 kerap dipilih karena diasosiasikan dengan kemakmuran dan kelancaran rezeki, sementara angka 4 dihindari karena dianggap membawa makna kurang baik.
Tradisi ini juga mengajarkan etika sosial yang kuat.
Angpao biasanya diberikan oleh mereka yang telah menikah atau dianggap lebih mapan kepada anak-anak dan anggota keluarga yang lebih muda.
Di beberapa keluarga, peran ini bahkan berkembang dua arah, anak-anak yang sudah dewasa juga memberi angpao kepada orang tua sebagai bentuk penghormatan dan terima kasih.
Cara menerima angpao pun tidak sembarangan.
Dalam budaya Tionghoa, angpao diterima dengan dua tangan sebagai tanda hormat, disertai ucapan selamat tahun baru dan doa kebaikan.
Amplop tidak langsung dibuka di hadapan pemberi, karena yang dihargai bukan isi uangnya, melainkan makna di balik pemberian tersebut.
Seiring perkembangan zaman, bentuk angpao ikut beradaptasi.
Angpao digital dan transfer uang kini semakin umum, terutama di kalangan masyarakat urban.
Meski amplop fisik mulai tergeser, nilai filosofisnya tetap dijaga.
Ucapan doa, harapan baik, dan semangat berbagi tetap menjadi inti dari tradisi ini.
Lebih dari sekadar ritual tahunan, angpao memperkuat ikatan keluarga dan keharmonisan sosial.
Tradisi ini menjadi pengingat bahwa Imlek bukan hanya tentang perayaan, tetapi juga tentang berbagi, menghormati, dan menebarkan kebaikan sejak hari pertama tahun baru.
Di balik warna merah yang mencolok, angpao menyimpan pesan sederhana namun kuat, yaitu rezeki akan terasa lebih bermakna ketika dibagikan, dan kebahagiaan tumbuh saat nilai-nilai budaya tetap dijaga lintas generasi. (Raka Adichandra)
Editor : Meitika Candra Lantiva