Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Hidup Serba Mahal, Berikut Tips Mengatur Keuangan yang Sering Dilakukan Anak Muda

Magang Radar Jogja • Kamis, 22 Januari 2026 | 13:15 WIB
Tips hemat pengeluaran di tengah kehidupan yang serba mahal.
Tips hemat pengeluaran di tengah kehidupan yang serba mahal.

RADAR JOGJA - Kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya transportasi, hingga sewa tempat tinggal membuat hidup sehari-hari terasa semakin berat, terutama bagi anak muda yang baru membangun kemandirian finansial.

Di tengah situasi ekonomi yang serba tidak pasti, banyak dari mereka menyadari bahwa bertahan bukan lagi soal mengejar gaya hidup ideal, melainkan tentang menyesuaikan diri dengan realitas yang ada.

Bagi sebagian anak muda, kata hemat kini tidak lagi identik dengan pelit atau menahan diri secara berlebihan, melainkan kemampuan mengatur prioritas.

Mereka mulai memilah mana pengeluaran yang benar-benar dibutuhkan dan mana yang bisa ditunda atau bahkan dihilangkan, tanpa merasa harus selalu mengikuti standar hidup yang ditampilkan di media sosial.

Salah satu strategi yang banyak dilakukan adalah mengurangi kebiasaan konsumtif kecil yang selama ini terasa sepele.

Membeli kopi di luar setiap hari, misalnya mulai digantikan dengan membuat minuman sendiri di rumah, sementara makan di luar lebih sering dijadikan momen sesekali, bukan lagi sebuah rutinitas.

Langkah sederhana ini dianggap lebih realistis dibandingkan mengubah gaya hidup secara drastis yang justru berisiko membuat stres.

Di sisi lain, anak muda juga mulai lebih sadar terhadap kebiasaan impulsive yang selama ini merek lakukan.

Belanja impulsif adalah belanja yang dilakuka secara langsung dan spontan tanpa mempertimbangkan kedaruratan sebuah produk yang dibeli.

Banyak dari mereka saat ini memilih untuk menunda pembelian, memanfaatkan promo dengan bijak, atau membuat daftar kebutuhan sebelum berbelanja agar pengeluaran tetap terkendali.

Belanja bukan lagi soal mengikuti tren, melainkan soal fungsi dan daya tahan barang yang dibeli.

Baca Juga: Vinicius Junior: Saya Ingin Tinggal di sini untuk Waktu Yang Lama

Pilihan transportasi pun ikut berubah.

Jika sebelumnya kendaraan pribadi dianggap lebih praktis, kini transportasi umum, jalan kaki, atau berbagi kendaraan menjadi alternatif yang semakin diterima.

Selain lebih hemat, pilihan ini juga dinilai memberi ruang untuk memperlambat ritme hidup yang selama ini terasa terlalu terburu-buru.

Menariknya, upaya bertahan di tengah hidup yang mahal tidak selalu berujung pada rasa kekurangan.

Sebagian anak muda justru menemukan kepuasan dari gaya hidup yang lebih sederhana.

Menghabiskan waktu di ruang publik gratis, membaca buku pinjaman, atau sekadar berjalan sore tanpa tujuan khusus menjadi cara menikmati hidup tanpa harus mengeluarkan banyak biaya.

Perubahan pola pikir juga menjadi kunci. Banyak anak muda mulai menerima bahwa hidup tidak harus selalu terlihat mewah untuk dianggap berhasil.

Bertahan, tetap sehat secara mental, dan mampu memenuhi kebutuhan dasar sudah menjadi pencapaian tersendiri di tengah tekanan ekonomi yang terus meningkat.

Meski demikian, tidak sedikit yang mengakui bahwa strategi hemat ini lahir dari keterpaksaan, bukan pilihan ideal.

Namun, di balik keterbatasan tersebut, muncul kreativitas dan kesadaran baru dalam mengelola keuangan.

Anak muda belajar bahwa bertahan hidup di era serba mahal bukan tentang siapa yang paling mampu mengikuti gaya hidup, melainkan siapa yang paling adaptif membaca situasi.

Di tengah mahalnya biaya hidup, cara-cara sederhana ini mungkin tidak menyelesaikan semua persoalan ekonomi secara langsung.

Tetapi setidaknya cara-cara ini memberi ruang bagi anak muda untuk tetap berjalan, menyesuaikan langkah, dan menjaga keseimbangan hidup tanpa harus kehilangan kendali sepenuhnya. (Raka Adichandra)

 

Editor : Meitika Candra Lantiva
#anak muda #Hidup Serba Mahal #standar hidup #tips mengatur keuangan #Ekonomi