RADAR JOGJA - Praktik membaca senyap sejak lama diterapkan dalam dunia akademik. Hingga diajarkan melalui mata kuliah membaca komprehensif, kritis, hingga kreatif.
Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UNY Setyawan Pujiono menjelaskan, membaca komprehensif atau pemahaman, dan membaca kritis atau kreatif adalah berbasis silent reading. Keduanya sudah diterapkan di kampus.
Baca Juga: Inilah Efek Kelebihan Gula yang Dialami Organ Tubuh!
Menurutnya, membaca senyap merupakan fondasi penting untuk kemampuan memahami informasi secara utuh. Namun di sisi lain, minat baca yang bersifat mendalam dan berkelanjutan justru dinilai masih menghadapi tantangan. “Fenomena umum di masyarakat justru menunjukkan penurunan minat membaca secara mendalam,” bebernya.
Kemudahan akses teknologi dan ledakan konten digital disebut membuat banyak orang lebih memilih konsumsi informasi dalam bentuk video pendek dibanding membaca teks panjang. "Jadi membaca secara real untuk keperluan pemahaman atau hiburan itu agak menurun," jelasnya.
Menurutnya, budaya membaca kini berubah menjadi aktivitas yang bersifat niche dan tidak lagi dipandang sebagai simbol intelektualitas seperti dulu. Dulu, membaca untuk menunjukkan seseorang intelek atau akademis. “Saat ini untuk keperluan tugas, skripsi. Kalau ada tugas dari dosen baru mereka baca," ungkapnya.
Dari sampel 100 mahasisswa di fakultasnya, hanya 20-30 persen yang membaca. Sisanya hanya akan membaca saat ada tugas. Setyawan berharap, kebiasaan membaca tidak hanya terikat pada kewajiban akademik. Tetapi menjadi kebutuhan sehari-hari yang lahir dari motivasi dan kecintaan terhadap pengetahuan.
Dalam pandangannya, membangun kebiasaan membaca harus dilakukan melalui pendekatan lingkungan. Bukan hanya instruksi di sekolah. Rumah dan keluarga perlu menyediakan ruang dan akses buku fisik untuk menumbuhkan kebiasaan membaca sejak kecil. "Di sekolah disuruh baca, tapi di rumah tidak difasilitasi," jelasnya.
Selain itu, dia menilai bahwa faktor harga buku yang tinggi serta kebingungan memilih bacaan karena banyaknya pilihan juga menjadi tantangan tersendiri. Ia menilai diperlukan peran guru dan orang tua dalam membimbing pemilihan buku berkualitas.
"Guru dan orang tua harusnya bisa memberi tahu dan menginformasikan. Harus ditanamkan dan dibiasakan sejak kecil," tuturnya.
Di tengah tantangan tersebut, fenomena silent reading yang berkembang merupakan energi positif yang bisa menjadi pintu masuk membangkitkan budaya baca kembali. "Pentingnya memastikan kegiatan membaca bukan sekadar tren sosial, tetapi menjadi praktik yang mendalam dan berkelanjutan," tandasnya. (iza/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita