Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Mengenal Ismail Budiarto, Inisiator Wisata Tengah Sawah

Editor Content • Rabu, 25 Desember 2019 | 19:37 WIB
KREATIF EDUKATIF: Ismail Budiarto penggagas wisata tengah sawah (kanan). Satu keluarga saat menghabiskan waktu di wisata tengah sawah nan edukatif, kemarin. ( HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA )
KREATIF EDUKATIF: Ismail Budiarto penggagas wisata tengah sawah (kanan). Satu keluarga saat menghabiskan waktu di wisata tengah sawah nan edukatif, kemarin. ( HENDRI UTOMO/RADAR JOGJA )
Membidik peluang dan mengembangkan ide kreatif bisa apa dan dimana saja. Yang penting positif dan tidak berbahaya. Seperti yang dilakukan Ismail Budiarto, warga Dusun I, Desa Ngestiharjo, Kecataman Wates Kulonprogo, penasaran apa yang dikerjakan?

 

HENDRI UTOMO, Kulonprogo, Radar Jogja

 

RADAR JOGJA - WISATA Edukatif, ide itu yang muncul dan dikembangkan pemuda kreaif asal Ngetiharjo ini. Petak sawah seluas 2.000 meter persegi itu diubahnya menjadi sentra waralaba produk pertanian sekaligus menjadi spot selfie yang sangat menarik.

Modalnya adalah alam. Lahan sawah yang kurang produktif di musim kemarau itu tidak dirubah fungsinya, hanya dikemas sedemikian rupa sehingga untuk menarik warga dan wisatawan untuk lebih dekat dengan sawah.

Maka petak sawah itu masih berisi tanaman cabai, kangngkung, bayam dan berbagai jenis tanaman produktif pertanian lainnya. Hanya saja, sawah itu terlihat menjadi lebih ramah. Ada semacam gapura dari tanaman berbunga, jalan setapak yang tidak becek dan jauh dari serangga. Aman untuk melepas penat dan menghabiskan waktu bersama keluarga.

Tak pelak banyak pengunjung yang datang bersama anak-anaknya, mereka dikenalkan berbagai macam tanaman, tidak hanya mengenal, mereka juga bebas memetik dan membawa pulang dengan harga yang sama seperti dipasaran. Bedanya, sayuran yang didapat lebih segar karena langsung petik dari sawah. "Awalnya saya ingin suasana yang lain. Sebab, selama musim kemaru banyak sawah yang diberaukan karena kurang produktif. Dalam kondisi seperti itu, biasanya ditanamai refugia (tanaman pembasmi hama), dan iseng saya selipi tanami bunga," ucap Ismail, belum lama ini.

Tanpa merubah petak sawah menjadi lokasi wisata permanen, petak sawah itu masih menjadi lahan produktif, hanya saja dijadikannya lokasi wisata edukatif. Kali pertama dibuka, respon masyarakat bagus, banyak siswa Paud, TK bahkan SD yang datang berombongan belajar pertanian di sawah cantik itu.

Selebihnya adalah masyarakat umum yang ingin mengabadikan momen kebersamaan dengan latar pemandangan alam sawah dibalut senja dan bunga-bunga di spot foto yang disediakan. "Saya namakan lokasi ini Wates, Wisata Tengah Sawah (WTS), ini adalah wisata edukatif, pengunjung bisa petik langsung hasil tanaman di sini, ada kangkung, bayem, cabai, pegunjungnya rata-rata 100 orang per hari," jelasnya.

Sejauh ini Ismail bergerak sendiri, dibantu beberapa teman yang memiliki visi senada. Dengan modal awal sekitar Rp 1 juta - Rp 2 juta, Ismail mengaku belum memikirkan untung, kendati dengan kunjungan lebih dari 100 orang perhari, tentu banyak pegunjung yang meninggalkan rupiah di petak sawah indah buatan Ismail ini.

Sejauh ini, dia belum memasang tarif, mereka yang datang hanya suka rela jika mau memberi. Hanya cukup bayar sayur yang dipetik jika ingin dibawa pulang, harganya sama dengan di pasar. “Kelebihannya di sini lebih segar dan puas bisa petik dan memilih sendiri sayuran yang diinginkan, mereka juga bisa mengenalkan jenis berbagi jenis sayuran langsung di sawah kepada anak-anaknya," jelasnya.

Pengunjung yang semakin banyak berdatangan di WTS, menjadi semacam antitesis. Saat banyak petani mengeluh harga cabai yang jatuh, Ismail tetap sabar dengan sedikit memeras otak untuk mencari cara agar tetap bisa bertahan sebagai petani dan menjauhi kata mengeluh.

Dicecar soal ide kreatifnya, Ismail mengaku mencari referensi di youtube, dengan konsep dan lokasi yang berbeda disesuaikan dengan kondisi alam di desanya, munculah idi membuat WTS. Langkah yang ditempuhnya juga menjadi semacam jawaban satir, disaat pemangku kebijakan tentang pariwisata berupaya menyadarkan warga untuk ikut menangkap peluang dengan hadirnya bandara baru di Kulonprogo.

Ismail telah membuktikan, cukup dengan konsep yang sederhana, tidak ribet mengelolanya, bahkan bisa dikerjakan sendiri ternyata mampu menyedot pengunjung dengan jumlah yang banyak. Dengan kejelian membidik peluang, tidak ada yang tidak mungkin, sukses dengan target kunjungan, kedepan bisa saja banyak wisatawan mancanegara yang melirik, sebab apa yang ditawarkan WTS cukup khas, ada sisi edukatif yang mungkin tidak banyak dan belum ada di negara lain. (pra) Editor : Editor Content
#Kulonprogo #Wisata Kreatif