KULON PROGO - Pemkab Kulon Progo menggelar Nyadran Agung, sebagai tradisi menjelang Ramadan, Kamis (12/2/2026).
Tradisi itu diikuti lintas generasi, memperebutkan 22 gunungan.
Kepala Dinas Kebudayaan Kulon Progo Joko Mursito menjelaskan, Nyadran Agung merupakan kegiatan tahunan.
Di tahun 2025 lalu, Nyadran Agung terdampak efisiensi anggaran sehingga kegiatan digelar sederhana.
"Tahun ini ada 22 gunungan, temanya ketahanan pangan," jelas Joko, Jumat (13/2/2026).
Tiga gunungan utama, dalam nyadran ini terdiri dari gunungan tumpeng, apem, dan hasil bumi.
Sedangkan 19 gunungan lain, berasal dari BUMD dan setiap kapanewon di Bumi Binangun.
Dahulu, nyadran hadir di setiap kalurahan. Dan kini diwadahi oleh Pemkab Kulon Progo.
Nyadran merupakan kegiatan, doa bersama mendoakan arwah leluhur.
Segaligus simbolik keselamatan serta wujud syukur manusia terhadap Tuhannya.
Nyadran Agung diawali dengan kirab budaya dari Bale Agung menuju Alun-Alun Wates.
Kirab berisi pasukan bergodo disusul dengan 22 gunungan yang diangkat oleh setiap perwakilan instansi.
Setelah semua berkumpul, di depan Rumah Dinas Bupati, diadakan doa bersama.
Pasca doa bersama inilah, keseruan Nyadran Agung dimulai.
Masyarakat yang telah menunggu sejak lama segera memperebutkan gunungan yang berisi hasil bumi dan jajanan pasar.
Tua hingga muda rela berjibaku memperebutkan gunungan.
Lantaran, gunungan dianggap memberikan berkah tersendiri.
Salah satu warga yang ikut memperebutkan gunungan adalah Sandra Vania.
Perempuan yang masih berseragam SMA itu, nekat mengikuti nyadran agung setelah pulang sekolah.
"Ikut rayahan sama teman-teman sekolah, dapat sayur buat dibawa pulang," ungkapnya.
Sandra menjelaskan, bersama temannya sengaja mengikuti rayahan.
Selain untuk melestarikan budaya, dirinya ingi menikmati momen rayahan.
Dirinya mengaku pernah mengikuti rayahan. Namun, baru pertama kali mengikuti rayahan di Nyadran Agung. (gas)
Editor : Meitika Candra Lantiva