Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Keberlanjutan Pelabuhan Tanjung Adikarta Jadi Sorotan Musrenbang, Telan Banyak Uang Negara tapi Tak Beroperasi Maksimal

Anom Bagaskoro • Jumat, 29 Maret 2024 | 14:00 WIB
CARI IKAN : Seorang nelayan menebar jala di pelabuhan Tanjung Adikarto, Kalurahan Karangwuni, Kapanewon Wates, Kulonprogo yang mangkrak dan tidak berfungsi.(HENDRI UTOMO / RADAR JOGJA)
CARI IKAN : Seorang nelayan menebar jala di pelabuhan Tanjung Adikarto, Kalurahan Karangwuni, Kapanewon Wates, Kulonprogo yang mangkrak dan tidak berfungsi.(HENDRI UTOMO / RADAR JOGJA)

 

RADAR JOGJA - Keberlanjutan Pelabuhan Tanjung Adikarta di Kapanewon Temon menjadi sorotan serius dalam musyawarah perencanaan pembangunan (musrenbang) RKPD (rencana kerja pemerintah daerah) tahun 2025 di Aula Adikarta, kemarin (28/3). Musrenbang diikuti elemen masyarakat yang mengusulkan dan menyarankan pembangunan di Kulon Progo.


Salah seorang yang mempertanyakan terkait keberlanjutan Pelabuhan Tanjung Adikarta itu adalah perwakilan karang taruna Eka Herdi Nugraha. Ia menanyakan terkait keberlanjutan dan keberlangsungan pelabuhan itu, usai operasinalnya tidak berjalan optimal.


"Ini berangkat dari kekhawatiran kami tentang pelabuhan yang terkesan tidak selesai itu," ucap Eka. Ia prihatin akibat pelabuhan tidak bisa digunakan seperti peruntukannya. Padahal keberadaanya telah menelan banyak uang negara namun tak bisa beroperasi secara maksimal.


Menurutnya, keberadaan pelabuhan yang bisa berjalan optimal mampu mendukung perekonomian sekitar. Tak hanya untuk orang yang bekerja sebagai petugas pelabuhan, namun juga di sekitar lingkungan pelabuhan. Seperti penjual makanan, penyewaan rumah, bahkan nelayan yang nantinya singgah di sana.


"Akan ada multiplier effect dari adanya pelabuhan apabila berjalan dengan normal," ucap Eka. Ia menjelaskan, apabila pelabuhan ditujukan sebagai tempat para nelayan berkumpul, maka nelayan dapat melaut dengan aman.

Musrenbang RKPD 2025 yang diikuti sejumlah lapisan masyarakat.
Musrenbang RKPD 2025 yang diikuti sejumlah lapisan masyarakat.


Selain itu, dimungkinkan investor masuk untuk membiayai usaha nelayan. Dengan demikian nelayan tak hanya melaut selama beberapa jam karena terkendala mesin dan kapal miliknya. Nelayan dapat melaut selama beberapa hari dengan kapal ukuran sedang.


Menurut Eka, sangat disayangkan apabila pelabuhan tidak berfungsi selayaknya. Ia melihat berbagai potensi di laut selatan Kulon Progo, yang harus terus digali. Potensi ikan tangkap seperti tuna bisa terwujud apabila pelabuhan dan dorongan investasi dapat dilaksanakan.


Menanggapi pernyataan Eka ini, Asisten Daerah II Bidang Perekonomian dan Pembangunan dan Sumber Daya Alam Bambang Tri Budi Harsono tak menampik bahwa sejak tahun 2006 pelabuhan itu tak bisa beroperasi optimal. "Tercatat tahun 2006, cukup memprihatinkan karena tak optimal," ucapnya.


Ia menjelaskan, sejak 2006 terdapat berbagai sarana dan prasarana (sarpras) mengalami kerusakan. Seperti tetrapod yang tenggelam akibat dibiarkan begitu saja. Padahal penggunaan tetrapod tergolong berfungsi baik dalam memecah ombak laut selatan.

Baca Juga: Pelabuhan Gesing Jangan Bernasib seperti Tanjung Adikarta


Bambang menuturkan, sebelum musrenbang digelar, Pelabuhan Tanjung Adikarta telah dikunjungi Menteri Kordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan. Dalam kunjungannya Luhut meminta pelabuhan itu untuk segera dioperasikan dengan menyusun ulang konsep operasional.


"Perintahnya kemarin ke Kementerian Perikanan untuk membuat desain baru," ucap Bambang. Ia menjelaskan, pembuatan desain baru diperuntukkan untuk operasional pelabuhan tanpa mengubah fasilitas yang telah dibangun hingga saat ini. Adanya angin segar itu, membuat harapan baru baginya agar Pelabuhan Tanjung Adikarta segera terealisasi untuk beroperasi. (cr7/laz)

Editor : Satria Pradika
#Kulon Progo #MUSRENBANG RKPD 2025 #Pelabuhan Tanjung Adikarta