Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pengalaman Tukang Tebang Pohon Kelapa,Tiap Tebang Pohon Ditunggui Puluhan Orang untuk Merayah Pondoh

Anom Bagaskoro • Minggu, 20 Oktober 2024 | 13:50 WIB
ENAK LHO: Paiman menunjukkan pondoh yang didapat dari hasil menebang pohon kelapa.
ENAK LHO: Paiman menunjukkan pondoh yang didapat dari hasil menebang pohon kelapa.

 

 

 

 

 

RADAR JOGJA - Pohon kelapa menyimpan banyak manfaat. Tak hanya dinikmati buahnya yang muda (degan) sebagai sajian penghilang dahaga, umbut atau sering disebut pondoh bisa menjadi bahan pangan alternatif. Pondoh merupakan bagian dari pohon kelapa yang masih muda, berupa tunas.

Di dalam pondoh, terdapat bagian batang, pelepah, daun, hingga bunga kelapa yang masih berbentuk lapisan. Tekstur pondoh cukup empuk jika ditekan dan memiliki rasa manis. Populernya pondoh pada kala itu, bahkan pernah berjaya menjadi bahan pangan di masanya.

Kejayaan pondoh sebagai bahan pangan alternatif pernah dirasakan seorang blandong atau penebang pohon bernama Paiman. Lahir di keluarga penebang dan sekarang bekerja sebagai penebang pohon, ia memiliki cerita banyak mengenai pemanfaatan pohon kelapa.

"Wah kalau dulu setiap tebang pohon kelapa, pasti ada yang nungguin," ucap Paiman saat Radar Jogja mengunjungi kediamannya, Jumat (18/10).

Baca Juga: Lawan Barito Putera di Bantul, Pemain PSS Sleman Harus Cepat Adaptasi dengan Skema Mazola

Baca Juga: Pawiyatan Jawi Agar ASN Pemkot Jogja Tak Salah Terapkan Budaya Jawa 

Ia menjelaskan, sekitar tahun 1980-an pondoh menjadi bahan pangan primadona bagi masyarakat, terutama di Bumi Binangun. Momen tebang pohon kelapa, kerap kali menjadi incaran masyarakat. Tak tanggung-tanggung, puluhan orang bisa memadati lokasi penebangan pohon.

Paiman yang kala itu masih remaja dan bertugas membantu orangtuanya yang sedang menebang pohon kelapa, menganggap hal itu sangatlah lumrah. Pondoh yang kala itu menjadi camilan alternatif membuat masyarakat seringkali berkumpul di lokasi penebangan.

Sehingga saat memotong pohon kelapa, penebang perlu memastikan arah jatuhnya pohon. Saat pohon kelapa terpotong dan ambruk, masyarakat yang menunggu langsung mendekat ke bagian ujung pohon kelapa.

Pria yang telah menjadi penebang selama lebih dari 30 tahun ini menjelaskan, seketika pohon ambruk masyarakat langsung merayah. Kebanyakan masyarakat mencari pondoh. Lantaran untuk buah kelapa biasanya dimiliki oleh pemilik pohon, sehingga barang yang bisa dirayah hanya pondoh.

Baca Juga: Momen Haru Ibu Menteri Luar Negeri, Retno Marsudi Saat Berpamitan Meninggalkan 'Rumahnya'

Baca Juga: Jogja Jadi Tuan Rumah Pertama Gelaran The Grand Triumph: Kejuaraan Panahan Indoor Internasional dengan Lebih dari 1.000 Peserta dari 8 Negara

Bahkan untuk merayah pondoh, masyarakat seringkali membawa golok sendiri dari rumah. Pondoh yang merupakan bagian teratas dari pohon kelapa perlu dikupas dari dahannya, hingga 20 lapisan. Pohon kelapa yang berdiameter 50 cm biasanya menghasilkan pondoh ukuran 30 cm.

Saat mengupas pondah dari bagian luaranya, perayah biasanya saling membantu. Jadi saat sudah berhasil didapat, perayah akan mendapatkan bagian masing-masing.

Merayah pondoh tak hanya dilakukan oleh orang dewasa, anak-anak juga ikut serta dalam merayah. Biasanya anak-anak akan memakan pondoh mentah. Lantaran pondoh memiliki rasa manis dengan tekstur renyah yang cocok dengan lidah anak-anak. "Pondoh yang enak itu berasal dari pohon yang berumur ratusan tahun," ucapnya.

Paiman menjelaskan, pengalaman menebang pohon menjadikan dirinya menarik kesimpulan rasa pondoh dipengaruhi umur pohonnya. Hal ini dilandasi dengan lerbandingan rasa pondoh yang hanya berumur 50 tahunan dengan pondoh berumur ratusan tahun.

Pondoh tua biasanya lebih manis, dengan tekstur renyah apabila dikunyah di dalam mulut. Kondisi pondoh tua juga lebih berair dibanding pondoh muda. Sedangkan untuk jenis pohon kelapa, pondoh dari kelapa hijau dinilai lebih enak.

Pondoh kelapa hijau memiliki rasa manis yang kuat, sedangkan kelapa oranye dan gading cenderung tak manis. Lokasi pohon ternyata juga berpengaruh terhadap rasa pondoh. Pondoh yang berasal dari pohon yang ditanam di pegunungan dinilai lebih segar, bahkan jika dinikmati secara mentah. "Ya dulu populer, karena minimnya bahan pangan," ucapnya.

Paiman menjelaskan, masyarakat yang rela melakukan rayahan pada pondoh memang menjadi hal wajar. Lantaran di masanya pondoh merupakan bahan alternatif pengganti sayur yang dijual di pasar. Saat itu, kondisi pangan tak sebaik sekarang. Sehingga masyarakat mengolah pondoh menjadi berbagai olahan untuk sekadar mencukupi kebutuhan.

Berakhirnya era pondoh, diawali saat masuknya gergaji mesin penebang. Saat itu sudah banyak pilihan bahan makanan yang dapat dijangkau masyarakat. Sehingga, aktivitas rayahan pondoh sekarang suli ditemui.

Bahkan pondoh sekarang kerap menjadi limbah. Lantaran masyarakat kini tak memiliki waktu untuk mengolah pondoh. "Kalau hasil tebang berupa pondoh saya bawa pulang untuk pakan ternak," ungkapnya. (gas/laz)

 

Editor : Heru Pratomo
#degan bakar #pohon kelapa #Kulon Progo #empuk #Tunas #Blandong