Tren Kasus Campak Naik Jelang Lebaran, Pengamat Imbau Masyarakat Senantiasa Waspada saat Mudik
Fahmi Fahriza• Rabu, 18 Maret 2026 | 21:00 WIB
Ilustrasi Wabah Campak.
JOGJA - Menjelang arus mudik Lebaran 2026, kewaspadaan terhadap penyakit menular kembali menjadi perhatian, terutama campak yang dilaporkan mengalami peningkatan kasus di sejumlah wilayah, termasuk di DIY.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan DIY Ari Kurniawati mengungkapkan, bahwa tren kasus campak di Jogja menunjukkan lonjakan signifikan dalam beberapa waktu terakhir.
Hingga minggu ke-9 tahun 2026, tercatat sebanyak 73 kasus campak terkonfirmasi, atau meningkat sekitar 5,6 kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kasus paling banyak ditemukan pada anak usia 2 hingga 9 tahun.
"Sebagian kasus juga terjadi pada bayi di bawah sembilan bulan yang belum cukup umur untuk mendapat imunisasi," ungkap Ari dalam talkshow TropmedTalk di Pusat Kedokteran Tropis Universitas Gadjah Mada (UGM) Rabu (18/3).
Di sisi lain, dosen Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM Ida Safitri Laksanawati menambahkan, bahwa kerentanan terhadap campak tidak hanya terjadi pada anak-anak, tetapi juga orang dewasa, terutama yang tidak memiliki kekebalan optimal.
Ia menyoroti pentingnya kelengkapan vaksin kombinasi Measles and Rubella (MR). Meski cakupan dosis pertama di DIY telah mencapai lebih dari 95 persen, cakupan dosis kedua masih berada di sekitar 90 persen.
"Ini alarm bagi kita. Ketika cakupan MR2-nya tidak optimal, dalam rentang waktu lima tahun ke depan, kadar antibodi orang yang sudah divaksinasi tersebut akan menurun signifikan," tegas dokter spesialis anak di RSUP Dr Sardjito tersebut.
Menurutnya, kondisi ini dapat melemahkan kekebalan kelompok (herd immunity) dan juga berpotensi membuka celah penyebaran penyakit.
Namun demikian, masyarakat diimbau untuk tidak panik, melainkan meningkatkan kewaspadaan dengan persiapan matang sebelum melakukan perjalanan mudik.
"Perhatikan dimana kasus itu menyebar, dan dengan siapa akan bepergian. Terutama dengan anggota keluarga yang usianya berisiko, misal bayi usia 6 bulan, tentu belum mendapat vaksin campak. Kalau tidak begitu penting, jangan diajak berkerumun," pesannya.
Penuturan lain datang dari dosen Departemen Biostatistik, Epidemiologi dan Kesehatan Populasi FK-KMK UGM Risalia Reni Arisanti. Dia mengungkapkan bahwa penularan campak kerap terjadi tanpa disadari, terutama dalam lingkup keluarga.
Ia menjelaskan, gejala awal campak seringkali menyerupai penyakit lain seperti demam berdarah, sehingga masyarakat tidak langsung mencurigainya sebagai penyakit menular.
"Begitu merasa tidak enak badan, langkah pertama adalah memakai masker dan membatasi interaksi guna mencegah penularan," paparnya.
Dengan meningkatnya mobilitas masyarakat selama Lebaran, potensi penularan penyakit juga ikut meningkat. Karena itu, masyarakat diharapkan lebih waspada dan memperhatikan kondisi kesehatan, terutama bagi anak-anak dan kelompok rentan.
"Masing-masing dari kita harus punya kepekaan dan diharapkan dapat bersikap bijaksana," ujarnya. (iza)