RADAR JOGJA - Bulan Ramadan menjadi momen yang penuh tantangan bagi para pecinta olahraga, terutama bagi mereka yang gemar berlari.
Salah satu pertanyaan yang kerap muncul adalah: lebih baik lari pagi atau sore saat menjalani puasa?
Berikut cara agar tetap bugar tanpa mengganggu ibadah.
Lari Pagi: Menjaga Kebugaran di Awal Hari Lari pagi saat puasa dapat dilakukan setelah sahur atau sebelum matahari terbit.
Keuntungan dari lari pagi adalah tubuh masih memiliki cadangan energi dari makanan sahur, sehingga tidak mudah lemas.
Selain itu, udara pagi yang segar dan sejuk membuat latihan lebih nyaman.
Namun, ada beberapa kekurangan lari pagi saat puasa.
Tubuh yang masih dalam kondisi belum sepenuhnya terhidrasi sepanjang hari dapat menyebabkan kelelahan lebih cepat.
Jika dilakukan dengan intensitas tinggi, bisa menyebabkan dehidrasi yang berisiko bagi kesehatan.
Lari Sore: Waktu yang Ideal untuk Berolahraga? Lari sore biasanya dilakukan menjelang waktu berbuka puasa.
Waktu ini dianggap ideal karena setelah berlari, seseorang bisa segera mengganti cairan tubuh dengan minum dan makan saat berbuka.
Tubuh juga sudah terbiasa beraktivitas sepanjang hari sehingga lebih siap untuk berolahraga.
Keuntungan lari sore adalah tubuh sudah dalam kondisi yang lebih hangat sehingga risiko cedera lebih kecil.
Namun, tantangannya adalah kondisi tubuh yang mungkin sudah lelah setelah berpuasa seharian.
Kesimpulan: Pilih Sesuai Kebutuhan dan Kondisi Tubuh Baik lari pagi maupun sore saat puasa memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Jika ingin menjaga energi sepanjang hari, lari sore bisa menjadi pilihan yang lebih ideal.
Namun, bagi yang ingin mengawali hari dengan segar dan memiliki aktivitas ringan, lari pagi juga bisa dilakukan dengan intensitas yang disesuaikan.
Yang terpenting adalah tetap mendengarkan kondisi tubuh, tidak memaksakan diri, serta menjaga asupan cairan dan nutrisi yang cukup saat sahur dan berbuka.
Dengan begitu, olahraga tetap bisa dilakukan tanpa mengganggu kelancaran ibadah puasa. (Adam Jourdi Alfayed)