Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Begadang yang Dianggap Biasa, tapi Diam-Diam Merusak Tubuh

M
Penulis: Magang Radar Jogja❯
Efek begadang yang diam-diam rusak tubuh.
Efek begadang yang diam-diam rusak tubuh.

RADAR JOGJA - Begadang sering kali dianggap hal sepele.


Advertisement

Tugas yang belum selesai, episode terakhir serial favorit, obrolan larut di media sosial, atau sekadar “scroll sebentar” yang berujung dini hari.

Bagi banyak orang terutama anak muda, tidur larut sudah menjadi bagian dari rutinitas, bukan lagi pelanggaran terhadap pola hidup sehat.

Begadang tak lagi dipandang sebagai kebiasaan buruk, melainkan kompromi kecil dalam hidup yang serba cepat.

Advertisement

Namun, di balik normalisasi itu, tubuh pelan-pelan mengalami perubahan yang sering luput disadari.

Perubahan paling terasa biasanya datang dalam bentuk kelelahan. Bukan lelah setelah aktivitas berat, melainkan rasa lesu yang menetap.

Bangun tidur tidak lagi menghadirkan rasa segar, melainkan rasa berat di kepala dan tubuh yang enggan bergerak.

Advertisement

Banyak yang mengira ini hanya soal kurang kopi atau cuaca, padahal kualitas tidur yang terganggu berperan besar.

Begadang juga mengacaukan jam biologis tubuh. Tubuh manusia memiliki ritme alami yang mengatur kapan harus beristirahat dan kapan harus aktif.

Ketika waktu tidur terus bergeser, ritme ini ikut terganggu.

Akibatnya, konsentrasi menurun, emosi lebih mudah naik turun, dan produktivitas tak seefektif yang dibayangkan.

Dalam jangka panjang, perubahan ini tidak berhenti di rasa kantuk. Pola makan ikut terdampak.

Tidur larut sering memicu keinginan makan di malam hari, biasanya makanan instan atau tinggi gula.

Metabolisme yang seharusnya melambat justru dipaksa bekerja, membuat tubuh kesulitan mengatur energi secara seimbang.

Kulit juga menjadi “korban sunyi” dari kebiasaan begadang.

Lingkar hitam di bawah mata, wajah kusam, hingga jerawat yang datang tanpa aba-aba sering kali dianggap masalah kosmetik biasa.

Padahal, saat tidur, tubuh melakukan regenerasi sel. Ketika waktu ini dipangkas, proses pemulihan ikut terhambat.

Tak hanya fisik, dampak begadang merembet ke kesehatan mental. Tidur yang tidak cukup membuat otak kesulitan mengelola stres.

Hal-hal kecil terasa lebih mengganggu, emosi lebih mudah tersulut, dan perasaan cemas muncul tanpa alasan jelas.

Banyak yang tidak mengaitkan kondisi ini dengan kebiasaan tidur, karena begadang sudah terlanjur dianggap normal.

Menariknya, banyak pelaku begadang merasa tubuhnya “baik-baik saja”.

Mereka tetap beraktivitas, menghadiri kelas atau bekerja, bahkan lembur lagi keesokan harinya.

Tubuh memang pandai beradaptasi, tetapi adaptasi bukan berarti tanpa konsekuensi. Tubuh bisa bertahan, namun perlahan mengubah caranya bekerja.

Di tengah budaya produktivitas dan hiburan tanpa batas waktu, tidur sering menjadi hal pertama yang dikorbankan.

Padahal, tidur bukan sekadar jeda, melainkan kebutuhan dasar yang menentukan kualitas hidup secara keseluruhan.

Mengurangi begadang bukan berarti harus langsung tidur sempurna delapan jam setiap malam.

Perubahan kecil seperti memajukan waktu tidur, mengurangi layar sebelum tidur, atau memberi tubuh jadwal istirahat yang lebih konsisten bisa menjadi awal.

Begadang mungkin terasa biasa hari ini. Namun tubuh selalu mencatat kebiasaan, sekecil apa pun itu.

Dan suatu saat, tubuh akan berbicara dengan caranya sendiri melalui lelah yang menumpuk, fokus yang menurun, dan kesehatan yang perlahan meminta perhatian. (Raka Adichandra)

 

Advertisement
Editor : Meitika Candra Lantiva
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
WhatsApp
Radar JogjaIkuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!


Artikel Terkait

7 Buah yang Bisa Membantu Menambah Berat Badan Secara Sehat

7 Buah yang Bisa Membantu Menambah Berat Badan Secara Sehat

Menambah berat badan tidak selalu mudah, terutama bagi orang yang memiliki tubuh kurus dan sulit meningkatkan nafsu makan. Salah satu caranya adalah mengonsumsi makanan tinggi kalori tetapi tetap kaya nutrisi. Buah..

Upaya Tekan Kasus Bunuh Diri di Gunungkidul Jadi Percontohan Nasional

Upaya Tekan Kasus Bunuh Diri di Gunungkidul Jadi Percontohan Nasional

Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih saat peluncuran Program Pembangunan Kesejahteraan Holistik (PPKH) di Taman Budaya Gunungkidul, Playen, Rabu (28/10). (dok. Pemkab Gunungkidul)

Meski Hanya Diisi Air, Tumbler Ternyata Wajib Dicuci Tiap Hari!

Meski Hanya Diisi Air, Tumbler Ternyata Wajib Dicuci Tiap Hari!

Bagi banyak orang yang aktif beraktivitas, membawa tumbler berisi air putih sudah menjadi kebiasaan sehari-hari yang tak boleh terlewatkan.  Karena hanya diisi air jernih tanpa campuran gula maupun minyak, tidak sedikit

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer