RADAR JOGJA - Rakyat Mataram sesungguhnya tidak bisa menerima Pangeran Poeger menjadi raja. Masyarakat menyoal legitimasi Poeger bertakhta sebagai Susuhunan Paku Buwono (PB) I. Tindakan Poeger merebut secara paksa dan menendang Amangkurat III keluar dari Istana Kartasura, tak sesuai dengan paugeran adat.
Harus diakui, fakta, Raden Mas (RM) Sutikna adalah pewaris takhta yang sah. Posisinya sangat legitimate. Sutikna, satu-satunya anak laki-laki dari Amangkurat II. Raja yang bertakhta di Mataram. Sebelum bergelar Amangkurat III, status Sutikna putra mahkota. Bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom. Dengan demikian, Sutikna memenuhi konstitusi sebagai susuhunan menggantikan ayahandanya.
Baru tiga tahun berkuasa, mendadak takhtanya digoyang. Ada serangan dari sang paman sekaligus mantan mertuanya. Poeger menggalang aliansi dengan Kompeni dan pasukan Madura. Dalam waktu singkat, Sunan Mas, sebutan lain dari Amangkurat III tersungkur dari taktanya. Dia keluar dari istana dan menjadi buronan politik rezim baru di Kartasura.
Meski berada di atas singgasana, Poeger menyadari legitimasinya sebagai raja rendah. Krisis legitimasi mendera kepemimpinannya. Menyikapi itu, Poeger memanggil sejumlah pujangga ke istana. Di depan para pujangga dan juru warta itu, raja bercerita banyak hal.
Awalnya muter-muter. Soal tantangan Mataram ke depan. Pengaruh VOC yang semakin luas, ekspor produk pangan yang perlu digenjot hingga proses suksesi dirinya menggantikan keponakannya, Amangkurat III. Dia mengaku sengaja cawe-cawe karena ingin menyelamatkan masa depan Mataram.
Dari situ, Poeger mulai masuk pada substansi masalah. Dia memberikan pengarahan kepada para pujangga yang dipimpin Tumenggung Tirtawiguna agar mengubah cerita Babad Tanah Djawi.
Poeger ingin menciptakan legitimasi. Takhta yang sekarang didudukinya sah. Tidak ada aturan adat yang dilanggar. Karena itulah, diciptakan rekayasa. Dalam Babad Tanah Djawi diceritakan tampilnya Poeger sebagai penguasa Jawa merupakan takdir.
Poeger bisa menjadi raja karena memperoleh wahyu keprabon. Ceritanya terjadi saat Amangkurat II wafat. Sebelum jenazah dimakamkan, mendadak kelamin Amangkurat II mengalami ereksi. Tegak berdiri. Di ujungnya ada cahaya sebesar lada. Anehnya, dari sekian banyak orang yang ikut menunggui jenazah raja, hanya Poeger yang melihatnya.
Karena itu, Poeger berinisiatif mengecup cahaya di ujung kemaluan raja yang tengah ereksi itu. Usai dikecup, kemaluan raja tidak lagi tegak berdiri. Babad Tanah Djawi menulis sudah menjadi kehendak Allah, Poeger menjadi susuhunan. Poeger menang menghadapi keponakannya karena kewahyon. Memperoleh wahyu keraton menjadi raja.
Rekayasa kedua ketika ada tenung walanda. Suatu malam ada makhluk hitam tinggi besar mendatangi Istana Kartasura. Makhluk itu bertanya tentang kediaman raja. Lantaran takut dan gemetaran, Amangkurat III justru menunjuk ke rumah Poeger.
Kedua cerita dalam Babad Tanah Djawi itu sebagai isyarat Poeger menerima wahyu keprabon. Sebaliknya, Amangkurat III justru mengingkarinya. Wahyu keraton menjauh dari Sunan Mas. Sudah menjadi suratan Poeger bertahkta menjadi raja Mataram.
Cerita lain yang dibuat adalah seputar suksesi menjelang Amangkurat I wafat. Poeger mendapatkan mandat karena menerima pusaka tombak Kyai Plered dan keris Kyai Mahesanular. Sebaliknya, sang kakak, Amangkurat II, tidak pernah memperoleh mandat menjadi raja dari ayahnya.
Kisah meninggalnya Amangkurat I diceritakan karena diracun oleh Amangkurat II melalui air kelapa muda. Sebetulnya raja tahu obat yang diberikan anaknya racun. Tapi, Amangkurat I tetap meminumnya. Sebelum meninggal, Amangkurat I mengeluarkan kutukan. Meski bisa menjadi raja, keturunan Amangkurat II tidak akan lama bertakhta di Mataram. Itu pun hanya satu keturunan.
Selepas berkuasa 25 tahun, Amangkurat II meninggal. Penggantinya Amangkurat III hanya bertahan tiga tahun. Sunan Mas diturunkan secara paksa oleh Poeger. Selanjutnya, takhta Mataram hingga hari ini diduduki keturunan Paku Buwono I. Bukan dari trah Amangkurat II.
Upaya membangun legitimasi dengan menciptakan cerita soal wahyu keraton ternyata berhasil. Poeger yang masih keturunan Ki Ageng Giring itu berhasil menggeser trah Ki Ageng Pemahanan tepat setelah generasi ketujuh penguasa Mataram.
Kini, raja-raja Surakarta dan Ngayogyakarta maupun adipati-adipati Mangkunegaran serta Pakualaman seluruhnya anak turun dari Poeger. Keturunan Paku Buwono I yang menjadi raja ke delapan Dinasti Mataram. (laz)
Editor : Editor Content