Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Tak Punya Istana, Rahmat Berkantor di Rumah Bupati Tegal

Editor Content • Selasa, 23 Mei 2023 | 13:00 WIB
Photo
Photo
RADAR JOGJA - Raden Mas (RM) Rahmat berubah pikiran. Putra mahkota Kerajaan Mataram itu baru saja selesai mengikuti upacara pemakaman ayahnya. Susuhunan Amangkurat I. Raja keempat Mataram itu dikebumikan di Desa Pesarean, Adiwerna, Kabupaten Tegal. Makam Amangkurat I tanahnya harum sehingga dinamakan Tegalarum atau Tegalwangi. Amangkurat I juga dikenal dengan sebutan Amangkurat Tegalwangi.


Usai upacara, putra mahkota membatalkan rencananya pergi ke Makkah. Awalnya Pangeran Adipati Anom ingin naik haji. Namun semua rencana itu urung dijalankan. Rahmat memutuskan melanjutkan takhta ayahnya. Dorongan itu muncul setelah Rahmat mengaku mendapatkan wangsit. Dia baru saja memperoleh bisikan gaib.


Wangsit itu kemudian diceritakan Rahmat kepada koleganya Tumenggung Martalaya. Jabatan sehari-harinya adalah bupati Tegal. Putra mahkota memperoleh bisikan gaib dari leluhur Mataram. Isinya memerintahkan agar dirinya naik takhta. Melanjutkan takhta yang ditinggalkan ayahnya.


Tapi Adipati Anom menghadapi problem. Sebagai raja, dia tengah berada di pengasingan. Ibu Kota Negara (IKN)  Pleret baru saja jatuh ke tangan musuh. Situasi politik bertambah pelik. Para pembesar kerajaan di pedalaman sekarang berada di belakang adiknya. Mereka lebih condong mendukung Pangeran Poeger.


Bahkan sang adik diketahui lebih dulu  mendeklarasikan sebagai raja Mataram. Pangeran yang di masa muda bernama RM Drajat itu memakai bergelar Susuhunan Abdurrahman Ing Ngalaga. Poeger telah berhasil merebut kembali IKN Pleret.


Di pihak lain, Mataram masih menghadapi musuh berat.  Mantan sekutu politik Rahmat yakni Trunajaya telah mendeklarasikan diri menjadi raja Jawa. Trunajaya memakai nama Panembahan Maduratna atau Maduretna. Pusat kerajaannya berada di Kediri.


Trunajaya menobatkan diri sebagai raja setelah sukses memimpin gerakan people power  merebut IKN Pleret. Bagi putra mahkota, keberadaan Trunajaya menjadi selilit  yang mengganggu rencananya menjadi raja. Selilit adalah sisa makanan yang tertahan di rongga gigi. Meski kecil, selilit sangat mengganggu.


Putra mahkota dalam posisi terjepit. Dukungan politik terhadap posisinya lemah. Rahmat kemudian teringat satu-satunya cara melapangkan jalannya menuju takhta dengan mencari dukungan pemodal asing. Mitra kerja yang bisa diajak berembug mewujudkan cita-citanya adalah VOC.


Kongsi dagang Belanda itu dinilai punya kemampuan membantunya. VOC punya pasukan. Didukung persenjataan lengkap. Karena itulah, Rahmat mengajak sahabatnya Bupati Martalaya pergi ke Jepara.


  Keduanya mendatangi benteng VOC di kota ukir tersebut. Hubungan antara putra mahkota dengan Kompeni bukan hal baru. Beberapa tahun sebelum kejatuhan istana Pleret, putra mahkota sering berkomunikasi dengan VOC.

Pertemuan Jepara itu membuahkan hasil. Memasuki September 1677, putra mahkota menandatangani perjanjian. VOC diwakili Cornelis Speelman. Isinya, pesisir utara Jawa mulai Kerawang  hingga Panarukan digadaikan ke VOC. Itu sebagai jaminan pembayaran biaya perang menumpas Trunajaya.


Putra mahkota akhirnya dinobatkan sebagai raja Mataram. Penobatan berlangsung di atas kapal VOC. Tidak seperti para pendahulunya, pengukuhan  Rahmat tidak memakai busana lazimnya raja-raja Mataram.


Dia memakai busana militer Belanda berpangkat admiral atau laksamana. Gelar yang dipilih adalah Susuhunan Amangkurat II. Atau Sunan Amangkurat Amral. Saat penobatan itu, Amangkurat II tidak punya istana.


Dia  berniat membangun istana baru. Penobatannya tidak disaksikan para pejabat Mataram. Satu-satunya yang menyaksikan peristiwa bersejarah itu hanya Martalaya. Bupati Tegal itu dengan setia mendampingi.


Lantaran belum punya istana, Amangkurat II untuk sementara waktu berkantor di kediaman bupati Tegal. Dia mengadakan konsolidasi. Mengumpulkan bupati-bupati di wilayah pesisir. Dari kantor bupati Tegal itu, Sunan bersama VOC merencanakan operasi militer. Sasarannya Kediri yang menjadi markas Trunajaya.


Dengan penobatan Amangkurat II itu, Mataram memiliki raja kembar. Dua anak Amangkurat I yang lahir dari dua permaisuri, Ratu Kulon dan Ratu Wetan sama-sama mengklaim sebagai pewaris takhta.  Rahmat sebagai Amangkurat II berkantor di Tegal. Sedangkan Poeger menjadi Susuhunan Ing Ngalaga berada di Pleret. Mataram menghadapi ancaman perang suksesi. (laz)
Editor : Editor Content
#Kusno S. Utomo #masjid mataram #Makam Amangkurat I