"Itu alatnya dari berbagai wilayah berbeda-beda. Bedanya di mana, yakni di kemiringan alatnya," ungkap Ir Eddy Yusworo, ahli di bidang tanah dan pupuk yang juga direktur Akademi Pertanian Yogyakarta (APTA).
Eddy mengatakan, kemiringan alat berbeda-beda karena disesuaikan dengan kondisi tanah. "Kenapa kemiringan alat berbeda karena untuk tingkat pengolahan tanahnya yang berbeda," ujarnya.
Disebutkan, alat bajak sawah dulu digunakan ketika belum ada traktor. Namun alat ini juga memiliki keterbatasan, di mana ketika mengunakan alat bajak tersebut biasanya memakai kerbau dan sapi. Akan tetapi kerbau atau sapi biasanya tidak tahan oleh panas matahari.
"Jadi biasanya pukul 11 pagi sudah berat. Nah jika sapi, itu juga lebih lemah daripada kerbau. Makanya kalau di tanah ringan biasanya dulu menggunakan sapi. Namun ketika di tanah berat atau lempungan menggunakan kerbau," katanya.
Ia menceritakan pada zaman dahulu para petani bekerja untuk menggaru sawah, mulai sejak subuh. Namun pukul 10 pagi sudah selesai, karena kerbau atau sapi tidak tahan panas.
Seiring berjalannya waktu, alat garu atau bajak sawah yang menggunakan kerbau atau sapi sudah tergantikan oleh traktor. Sebab di tenaga traktor tidak ada batasannya.
Secara umum dari sisi kesuburan tanah, kalau menggunakan alat bajak yang menggunakan kerbau atau sapi, tanahnya bisa semakin subur.
"Ketika membajak sawah menggunakan alat garu yang memakai kerbau atau sapi, itu kan sering berak dan kencing di lahan pertanian. Nah itu bisa menjadi pupuk organik yang bisa menambah kesuburan tanah," jelasnya.
Namun jika dilihat dari sisi waktu, alat bajak sawah yang menggunakan kerbau atau sapi kalah sama traktor. Karena sekarang ketika menggunakan traktor capaian kerjanya bisa selesai dengan cepat.
Eddy menerangkan, tenaga-tenaga kerja yang masuk di lahan pertanian tidak sebanding dengan kebutuhan. "Maka saya berpikir mekanisasi di Indonesia itu sudah mendesak. Cuma pada kenyataannya dulu pemerintah menumbangkan traktor, itu banyak yang nganggur. Sebab di kalangan petani, sudah banyak traktor sekarang," terangnya.
Zaman sekarang alat garu atau bajak sawah yang menggunakan kerbau atau sapi sudah sangat sedikit atau langka digunakan masyarakat. Ini karena para petani sudah berganti dengan traktor.
"Bahkan para petani di daerah saya, Sleman, banyak yang menjual kerbau atau sapi untuk membeli traktor itu," cetusnya.
Sekarang, lanjut Eddy, alat bajak sawah atau luku malah jarang digunakan untuk alat pertanian. Namun justru banyak digunakan untuk hiasan, seperti di tempat wisata atau rumah makan.
Ia juga menambahkan, mekanisasi itu masuk bukan cuma buat untuk menjadikan pengangguran. Tapi kebutuhan tenaga pertanian untuk yang manual manusia itu tidak sebanding. "Maka kebutuhan mekanisasi di Indonesia harus masuk," tambahnya. (cr2/laz) Editor : Editor Content