Ratu Kulon ini kemudian dimakamkan di Pasareyan Girilaya, Wukirsari, Imogiri. Di makam itu bersemayam beberapa tokoh penting Kerajaan Mataram. Di antaranya Ratu Mas Adi Dyah Banowati, ibunda Susuhunan Agung Hanyakrakusuma, permaisuri raja kedua Mataram Panembahan Hanyakrawati.
Usai ditinggalkan suaminya, Ratu Adi dinikahkan Sunan Agung dengan pamannya Pangeran Juminah. Dia adik Hanyakrawati yang lahir dari beda ibu. Juminah anak Panembahan Senopati. Asal usulnya dari trah Madiun. Ibunya bernama Retno Dumilah. Makam Juminah juga berada di Girilaya. Nisannya berdampingan dengan sang istri Ratu Adi.
Peringatan meninggalnya Ratu Kulon telah memasuki satu tahun. Di kediaman Sayidin baru saja diadakan tahlilan. Selesai acara, Sayidin menghadap ayahandanya di Ndalem Ageng Keraton Kerta. Dia meminta izin melakukan pergantian antarwaktu (PAW) permaisuri. Dia ingin mencari pengganti Ratu Kulon. Beberapa penasihat kerajaan memberikan masukan. Kedudukan permaisuri harus segera diisi. Tidak boleh dibiarkan terlalu lama lowong.
Sayidin juga ingin meniru tradisi para penguasa Mataram sebelumnya. Mulai eyang buyutnya Panembahan Senopati, kakeknya Hanyakrawati, dan ayahandanya Sunan Agung selalu memiliki dua istri utama. Ratu Kulon dan Ratu Wetan. Sunan Agung setuju dengan rencana Sayidin mencari permaisuri baru.
Melaksanakan rencana PAW itu kemudian diadakan audisi. Putri-putri dari kadipaten bawahan Mataram dipersilakan mendaftarkan diri. Seleksi terbuka calon permaisuri putra mahkota diumumkan. Tumenggung Alap Alap ditunjuk sebagai panitia seleksi. Ada sejumlah persyaratan. Di antaranya, calon permaisuri harus memenuhi bobot, bibit dan bebet.
Bobot bermakna kepribadian dan pendidikan. Bibit merupakan garis keturunan yang harus dilihat. Bebet menyangkut status sosial ekonomi. Syarat lahirnya harus memiliki darah trahing kusuma rembesing madu, wijining atapa, tedhaking andana warih.
Memiliki darah atau trah bangsawan yang di dalam dirinya mengalir kualitas prima (rembesing madu). Punya benih keilmuan yang tinggi (wijining tapa) dan dari keluarga dekat yang mengerti leluhur dan sopan-santun (tedhaking andana warih).
Dari sekian calon yang melamar tidak ada yang memenuhi. Selain itu, tak ada satupun pelamar yang menarik perhatian Sayidin. Sebagai putra mahkota, Sayidin tergolong punya selera tinggi. Sayembara alias lelang terbuka calon permaisuri dinyatakan gagal. Seleksi ditutup.
Nyaris bersamaan itu, Sayidin kerap wira-wiri Mataram ke Batang. Dia biasa dolan di akhir pekan ke rumah kakeknya di Batang. Ibunda Sayidin merupakan putri bupati Batang, cucu Ki Juru Mertani. Dalam perjalanan ke Batang itu, Sayidin singgah di Semarang. Dia transit di kediaman bupati Semarang.
Di situ putra mahkota Mataram itu bertemu dengan seorang gadis. Wajahnya cantik menawan. Sesuai selera yang diidamkan Sayidin. Gadis itu bernama Raden Ayu Wiratsari, putri Pangeran Kajoran dari Klaten. Pangeran Kajoran ini juga dikenal dengan sebutan Panembahan Rama. Trahnya masih keturunan Sunan Tembayat.
Trah Tembayat ini banyak yang duduk sebagai penguasa Semarang. Sedangkan ibunya berasal dari Madiun. Putri Adipati Madiun Pangeran Juminah dengan Ratu Mas Adi. Dengan begitu persyaratan bobot, bibit dan bebet terpenuhi. Wiratsari juga memiliki darah trahing kusuma rembesing madu, wijining atapa, tedhaking andana warih.
Perkenalan dengan Wiratsari bertambah dekat. Saat Wiratsari mudik ke Kajoran, Sayidin ikut mengantarnya. Perjalanan ditempuh dari Ungaran, Boyolali, Jatinom, Gergunung, hingga Kajoran. Sekarang Kajoran masuk daerah Kalikotes, Klaten.
Singkat cerita, Sayidin kemudian melamar Wiratsari. Setelah resmi sebagai suami istri, Wiratsari diangkat sebagai permaisuri. Kedudukannya sebagai Ratu Wetan. Dari pernikahan ini lahir RM Drajad. Nama Drajad ini diambil dari salah satu Walisanga. Sunan Drajad adalah putra Sunan Ampel.
Dengan begitu, dua anak Sayidin semuanya menggunakan nama Walisanga. Pertama, RM Rahmat lahir dari putri Surabaya. Kedua, RM Drajad yang ibunya putri Semarang. Baik Rahmat maupun Drajad itu kelak sama-sama jumeneng sebagai raja Mataram pasca Sayidin.
Sayidin bergelar Susuhunan Amangkurat I atau Hamangkurat Agung. Rahmat melanjutkan takhta menjadi Amangkurat II atau Sunan Amral. Sedangkan Drajad sempat bergelar Pangeran Puger. Dia naik takhta dengan sebutan Susuhunan Paku Buwono I. Baik Rahmat maupun Drajad menjadi raja di Keraton Mataram Kartasura. (laz) Editor : Editor Content