Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Jaga Kelestarian Alam dengan Kearifan Lokal

Editor Content • Senin, 20 Maret 2023 | 18:25 WIB
HIDUP: Sandi Ironi membuat barongsai dan naga liong di rumahnya yang terletak di Jalan Daha Nomor 36 Kota Magelang (16/1). ( AHMAD SYARIFUDIN/RADAR JOGJA )
HIDUP: Sandi Ironi membuat barongsai dan naga liong di rumahnya yang terletak di Jalan Daha Nomor 36 Kota Magelang (16/1). ( AHMAD SYARIFUDIN/RADAR JOGJA )
RADAR JOGJA - Warga Notoyudan, Pringgokusuman, Kota Jogja menegaskan pentingnya kelestarian alam. Mereka bahkan mengusung bantaran kali untuk ditawarkan sebagai destinasi wisata alternatif. Masyarakat membalut kearifan lokal dengan budaya.

Ketua RW 22 Notoyudan Purnama mengatakan, sebelumnya tidak ada jalan di bantaran Kali Winongo. Penataan oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Jogja, lantas menyibak keindahan kali yang membelah Kota Jogja ini. "Sekarang justru bisa dimanfaatkan. Malah bisa jadi destinasi wisata," paparnya kepada Radar Jogja, kemarin (19/3).
Oleh sebab itu, dia bersama tiga RW lain di Notoyudan melakukan gerakan bersama. Mewujudkan Notoyudan yang mendukung pengembangan pariwisata di Kota Istimewa. "Jadi kami gelar Festival Gumregah Mbangun Kutha," cetusnya.
Ketua panitia Sigit Parwanto menambahkan, kegiatan ini bertujuan untuk menguatkan potensi budaya dan ekonomi kampung. Sekaligus menjadi media untuk membangun kolaborasi antar pemangku kepentingan dan komunitas. "Untuk mewujudkan budaya bermukim yang aman sehingga dapat memperkuat Keistimewaan Jogjakarta," tegasnya.
Festival menampilkan berbagai potensi yang ada di Notoyudan. Bahkan upacara diberi tajuk Bebakal, Cecikal, dan Tetinggal. Dikemas secara teatrikal, upacara menggambarkan keberhasilan dan harapan dalam mewujudkan keamanan bermukim bagi masyarakat yang tinggal di bantaran sungai Kota Jogja.
Pada babak bebakal, menceritakan awal mula tumbuhnya kampung-kampung di bantaran sungai. Setiap manusia butuh tetirah dan istirah, pulang ke rumah. Mereka mempunyai rasa rindu pulang atau butuh mulih. Secara spiritual juga disebabkan panggilan semesta. "Semesta memanggil-manggil para Kyai Bakal-Nyai Bakal, yang bebakal kampung-kampung untuk diam dan mendiami bantaran kali," jelasnya.

Babak cecikal menggambarkan bagaimana warga menghadapi ancaman alam dan sosial. Pada saat musim hujan, warga bantaran sungai menghadapi ancaman bahaya banjir dan longsornya tebing sungai dan juga ancaman pergerakan wedhi kengser. Selain adanya ancaman alam dan musim, warga bantaran sungai juga menghadapi problem sosial dan aspek legal.
Sementara babak tetinggal menceritakan keberhasilan Paguyuban Kalijawi melakukan penataan kampung dan mengelola dana komunitas yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan finansial anggotanya. Mereka mulai dengan mengorganisasikan ibu-ibu untuk manabung sebesar Rp 2.000 per hari. Dari tabungan tersebut pada tahun 2012 di gunakan untuk memperbaiki rumah para anggotanya secara bergantian. Dalam waktu 20 bulan bisa merenovasi 165 rumah. Menyisakan dana Rp 126 juta yang terus digulir hingga saat ini mencapai lebih dari Rp 1 Miliar. Kegiatan ini dikemas dalam bentuk Koperasi yang bernama KSP. "Sesarengan Mangayu Bagya yang mengadakan Rapat Anggota Tahunan pada hari ini (kemarin, Red)," ucapnya.
Suratih, Ketua Paguyuban Kalijawi mengatakan, perkembangan kota dan kampung menjadi satu kesatuan yang saling menguatkan dan memberi nilai. Kampung tidak dapat dipisahkan dengan pertumbuhan Kota Jogja yang mendukung kegiatan ekonomi maupun non-ekonomi, di dalamnya mengakar kebudayaan lokal. "Nilai dan spirit Keistimewaan DIJ selaras dengan cita-cita Kalijawi untuk mewujudkan keamanan bermukim di kampung kota. Oleh karena itu, mewujudkan keistimewaan merupakan proses melestarikan budaya dan melestarikan kampung," ujar perempuan yang akrab disapa Semi ini. (fat/din) Editor : Editor Content
#Festival Gumregah Mbangun Kutha