Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Walau Tipu-Tipu Tetap Legend

Editor Content • Minggu, 5 Maret 2023 | 15:54 WIB
Photo
Photo
RADAR JOGJA - Kenangan suka duka masa kecil jika diceritakan ibarat mengupas bawang merah. Semakin dikuliti makin banyak lipatannya. Salah satunya memori menggunakan kacamata 3D (tiga dimensi). Isunya, dapat mengubah segala tayangan film layar televisi menjadi 3D.

Karena isu begitu santer menggema, kacamata 3D menjadi booming bagi anak yang lahir di era tahun 90-an. Untuk mendapatkannya terbilang mudah, karena dijual oleh pedagang keliling. Biasa mangkal dekat sekolah, campur aduk dengan aneka jenis mainan lainnya.

Seorang warga Wonosari Ervan Bambang bercerita bagaimana gagahnya dia waktu menggunakan kacamata tiga dimensi itu. Diberikan ayah sepulang dari kerja, tapi malah kebingungan saat televisi menyala.

"Tidak apalah, mungkin perlu konsentrasi agar dapat gambar bergerak menakjubkan. Pokoknya tertawa saya kalau ingat waktu itu," cerita Ervan kepada Radar Jogja.

Namun Ervan kecil tidak mau putus asa. Bahkan serumah juga penasaran ramai-ramai memakai kacamata itu. Silih berganti menjajal, mencoba, kemudian menerka-neraka apa gunanya kacamata ini. "Sampai berebut ketika kecil itu," ujarnya.

Dia menjelaskan detail mengenai kacamata legend itu. Secara kasat mata tidak nampak adanya hubungan dengan teknologi apa pun. Bentuknya sederhana, hanya berbahan kertas. Bagian bola mata terdapat semacam mika warna-warni. Ada merah, biru, kuning. "Saya bawa ke sekolah, saya tunjukkan kacamata penuh misteri ini kepada kawan-kawan," kelakarnya.

Sejurus kemudian satu sekolahan heboh. Ervan yang waktu itu tinggal di pedesaan merasa paling keren seantero sekolah dasar (SD). Kepada para sahabat dia meneruskan rumor mengenai kegunaan kacamata 3 dimensi itu.
Kelebihannya dibanding kacamata lain, yakni pada sensasi gambar 3 dimensi. "Melihat film apa saja di televisi, bisa tiga dimensi," ucapnya.

Hari berganti hari, penjual mainan terlihat parkir di luar gerbang sekolah. Ada yang baru. Si bapak itu mengenakan kacamata aneh. Rupanya kacamata 3D mulai masuk ke wilayah pedesaan.

Anak-anak pada jam istirahat langsung menyerbu pedagang. "Saya ngga mau beli, sudah punya," ucapnya lagi, sembari terus tersenyum.

Singkat cerita sebagian besar murid telah memiliki kacamata 3 dimensi. Mereka pulang ke rumah masing-masing. Kisahnya kurang lebih sama dengan yang dialami. Satu keluarga nobar (nonton bareng) gantian pakai kacamata aneh.
Anak-anak merasa bangga sekali dapat mengenakan kacamata itu. Bisa saling bercerita sensasi saat memakai dan seterusnya. Namun setelah ditarik kesimpulan, semuanya kompak menerangkan bahwa tidak ada yang berubah saat memakai kacamata. "Ternyata itu hanya kacamata tiga dimensi mainan," ucapnya.

Walau begitu, satu dari mereka tetap saja ada yang ngotot. Katanya, kacamata hanya berfungsi pada saat menonton film kartun, lainnya tidak. Namun faktanya hanya kabar burung atau kabar bohong alias hoaks. "Hehe... lucu sekali masa-masa saat kecil itu," kenang Ervan. (gun/laz) Editor : Editor Content
#kacamata 3D