RADAR JOGJA - Menjabat sebagai media officer memiliki tugas yang strategis dalam sebuah tim sepakbola. Hal itu yang diemban Aprilia Sulistyowati, yang kini menjabat sebagai media officer PSIM Jogja. Ia bertugas menginformasikan aktivitas yang dilakukan oleh klub tersebut.
Aprilia menilai, jabatannya menjadi pintu pertama dalam penyampaian aktivitas klub ke publik. Baik lewat wartawan maupun lewat media sosial. “Kalau terjadi sesuatu di klub, maka media officer menjadi salah satu sumber informasi yang menyampaikan informasi yang valid dan akurat ke publik,” kata April, sapaan akrabnya, kepada Radar Jogja.
April sendiri baru di musim ini menjadi media officer PSIM Jogja. Tepatnya sejak bulan Agustus 2022 lalu. Sebelumnya, dia terlebih dulu menjadi jurnalis di PSIM sejak Oktober 2021. “Karena media officer sebelumnya tidak bisa lanjut, jadi aku disuruh naik,” ungkapnya.
Sebelum masuk menjadi jurnalis di PSIM, April terlebih dulu menjadi salah satu jurnalis di media milik Brajamusti, yakni Kabar Mataram. Dia bergabung di sana sejak 2016. Saat berada di Kabar Mataram, April lalu mengenal media officer PSIM saat itu. Lantas di tahun 2021, PSIM membuka open recruitment untuk jurnalis. “Lalu aku ngelamar masukin CV sama tulisan-tulisanku waktu aku di medianya Brajamusti,” jelasnya.
Perempuan asal Kota Jogja ini sebenarnya adalah lulusan Teknik Kimia di UPN “Veteran” Yogyakarta. Namun, hobinya menulis dan kecintaannya kepada tim berjuluk Laskar Mataram itu kini menjadikannya profesi. “Pada dasarnya memang suka PSIM dan suka menulis. Kebetulan ada wadahnya di Kabar Mataram, jadi bisa mengeluarkan bakat terpendam,” ujarnya.
April juga merasakan pengalaman baru saat menjadi media officer PSIM. Salah satu pengalaman berkesannya adalah saat mendampingi skuad Laskar Mataram menjalani awaydays di Bandung melawan Persikab Kabupaten Bandung pada Agustus 2022 kemarin. Saat itu adalah pertama kali bagi April mendampingi tim sebagai media officer. “Jadi mungkin itu yang paling berkesan. Di awal sempat bingung kalau away itu ngapain aja karena belum tahu tugas-tugasnya,” ucapnya.
Beberapa kali April merasa tak enak hati jika PSIM mengalami hasil minor. Karena media officer melekat ke tim, dia ikut sedih jika melihat ekspresi pemain yang kecewa dan marah usai menelan kekalahan. “Kadang nggak tega ngajak mereka untuk presscon (press conference), agak berat,” ungkapnya.
Meski begitu, perempuan kelahiran 29 April 1995 ini merasa bisa menambah relasi dan pengalaman ketika menjadi media officer. Ke depannya dia ingin lebih menjalin komunikasi ke luar. Karena selama ini batasannya hanya ke wartawan. “Ingin bisa menjangkau lebih luas dan lebih merangkul legenda PSIM. Makanya sekarang di PSIM ada program Apa Kabar Legenda PSIM Jogja karena memang ingin menjalin silaturahmi,” katanya.
Di situasi terhentinya kompetisi seperti sekarang, April tetap menjalankan tugasnya untuk mencari berita dan mengisi konten di media PSIM. Terutama menggiatkan lagi soal program Apa Kabar Legenda PSIM Jogja. “Tetap mengisi konten di PSIM tapi ya memang agak PR juga kalau lagi off begini,” pungkasnya. (tyo/bah)
Editor : Editor Content