Suyana mengakui pola makan warga Kota Jogja berubah seiring berjalannya waktu. Dia mencatat, pada 2018 pola makan masyarakat masih didominasi oleh makanan-makanan siap saji. Tak beragam dan tidak ada kandungan sayur maupun buah di dalamnya.
Tingkat konsumsi sayur warga Kota Jogja pada saat itu juga terbilang rendah. Bahkan hanya diangka 18 dari angka yang dianjurkan yakni 30. Namun, kini konsumsi sayur warga Kota Jogja dinilai telah meningkat, berada di atas angka 30.
"Sekarang pola makan berubah. Sayur dan buah cukup. Konsumsi nasi dan minyak juga sudah dikurangi. Protein juga cukup, karena ketersediaan daging di Kota Jogja juga cukup," jelasnya, Selasa (15/11).
Peningkatan ini salah satunya berkat program-program Dinas Pertahanan dan Pangan. Misalnya dengan pengembangan kampung sayur dan lorong sayur. Hingga saat ini tercatat setidaknya ada lebih dari 90 kampung dan lorong sayur di Kota Jogja.
"Tujuan utama kampung dan lorong sayur tidak untuk meningkatkan ekonomi. Tetapi, ini untuk mendorong masyarakat untuk terus mengonsumsi sayur," katanya.
Selain itu, masyarakat juga diedukasi mengenai keberadaan Pekarangan Pangan Lestari (P2L). Lalu Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL). Ada juga Lumbung Mataraman atau lumbung pangan dengan berbasis rumah tangga.
Ketiga konsep ini mengajak masyarakat untuk tetap menanam sayuran. Baik di pekarangan maupun lahan rumah. Tekniknya menyesuaikan dengan besaran lahan yang dimiliki.
"Untuk protein misalnya ikan ada budikdamber atau budidaya ikan dalam ember. Ini kami aplikasikan ke masyarakat," ujarnya. (isa/dwi) Editor : Editor News