Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Prediksi 8,2 Juta Wisatawan Dipertanyakan, PHRI DIY Catat Okupansi Hotel Justru Anjlok

Fahmi Fahriza • Rabu, 18 Maret 2026 | 19:00 WIB

PHRI DIJ menyebut, angka okupansi di kawasan Malioboro bahkan mencapai 95,8 persen. Di Kota Jogja, okupansi hotel rata-rata mencapai 90 persen.
PHRI DIJ menyebut, angka okupansi di kawasan Malioboro bahkan mencapai 95,8 persen. Di Kota Jogja, okupansi hotel rata-rata mencapai 90 persen.
 

JOGJA - Industri perhotelan di DIY tengah menghadapi tekanan berat sepanjang Ramadan hingga menjelang lebaran Idul Fitri 2026. Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY mencatat tingkat okupansi hotel anjlok di kisaran 10 hingga 30 persen selama Ramadan.

Ketua PHRI DIY Deddy Pranowo Eryono menyebut, bahwa kondisi ini sebagai situasi paling berat yang dihadapi pelaku industri perhotelan dalam beberapa tahun terakhir, bahkan setelah pandemi Covid-19.

"Puasa ini rata-rata hanya 10 persen sampai 30 persen. Ini rekor terendah setelah pandemi. Bahkan bisa dibilang ini tahun terberat bagi kita," ujarnya pada Radar Jogja, Rabu (18/3).

Padahal, pada periode Ramadan biasanya tingkat hunian hotel di Jogja di angka 40 hingga 50 persen. Penurunan tajam ini dinilai tidak lepas dari melemahnya daya beli masyarakat serta perubahan pola belanja menjelang Lebaran.

"Analisa kami daya beli masyarakat turun, kemudian orang saving untuk Lebaran. Tapi turunnya ini signifikan sekali," katanya.

Tak hanya kamar hotel, lesunya permintaan juga terjadi pada sektor lain seperti kegiatan Meeting, Incentive, Convention, Exhibition (MICE) dan layanan buka puasa bersama (bukber) di hotel.

"Bukber penurunannya sekitar 10 sampai 15 persen dibanding tahun lalu," ungkapnya.

Memasuki periode jelang lebaran, diakui Deddy kondisinya juga belum menunjukkan perbaikan signifikan. Hingga H-2 atau H-3 Idul Fitri, tingkat reservasi hotel masih berada di angka 30 hingga 40 persen, jauh dari target okupansi 85 persen yang diharapkan PHRI DIY.

Di sisi lain, Deddy juga menyoroti prediksi kedatangan 8,2 juta wisatawan ke DIY selama periode Lebaran yang dinilai belum tercermin di lapangan. Bahkan, angka tersebut dikhawatirkan justru menimbulkan persepsi keliru di masyarakat. "Hilal-hilalnya itu belum kelihatan. Jangan sampai angka itu malah bikin orang takut datang ke Jogja karena khawatir macet dan tidak dapat kamar," ujarnya.

Menurutnya, angka tersebut kemungkinan besar mencakup wisatawan yang hanya transit di Jogja. Atau pemudik yang tidak menginap di hotel, melainkan tinggal di rumah keluarga.

 

Di sisi lain, PHRI melihat adanya perubahan perilaku wisatawan, yakni kecenderungan untuk datang tanpa reservasi online terlebih dahulu. Hal ini dinilai berisiko memicu kepadatan di kota karena wisatawan berputar mencari kamar secara langsung.

"Sekarang modelnya banyak yang go show. Ini yang kami khawatirkan, nanti muter-muter cari kamar dan justru memadati Jogja," ujarnya.

Meski demikian, Deddy memastikan ketersediaan kamar hotel masih mencukupi dan meminta masyarakat tidak ragu berkunjung ke Jogja.

Dari data yang dihimpun, Deddy memproyeksikan bahwa okupansi akan terisi cukup masif rentang 19 dan 20 Maret, dengan perkiraan reservasi secara langsung di lokasi-lokasi hotel.

"Saya berpesan lebih baik reservasi secara online, agar lebih efektif dan efisien. Jangan takut datang ke Jogja, masih banyak sekali kamar hotel yang tersedia," ulasnya.

Di tengah tekanan permintaan, pelaku industri juga dihadapkan pada kenaikan biaya operasional, mulai dari bahan baku makanan hingga biaya perawatan hotel. Kondisi ini membuat banyak hotel memilih menahan kenaikan harga demi menjaga daya tarik pasar.

"Kalau dinaikkan terlalu tinggi masyarakat terbebani. Jadi banyak hotel memilih menyesuaikan harga, yang penting operasional bisa tertutup," jelasnya.

Sebagai strategi, sejumlah hotel mulai menawarkan paket Lebaran yang lebih atraktif. Seperti bundling kamar dengan makan malam dan hiburan. Serta memberikan harga lebih kompetitif untuk pemesanan langsung melalui kanal resmi hotel.

Pemudik asal Jogja yang bekerja di Kalimantan Farhan Rizki mengaku, lebih memilih pulang ke rumah orang tuanya di daerah Tamantirto, Bantul selama Lebaran. "Tidak kepikiran nginap di hotel, lebih hemat dan bisa kumpul keluarga kan," katanya.

Sebagai pemudik, dia menilai, suasana Lebaran memang lebih terasa jika dihabiskan bersama keluarga di rumah. Apalagi, ini merupakan mudik Lebaran pertamanya bersama sang istri. (iza)

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#phri diy #Hotel #okupansi hotel #okupansi #industri perhotelan #Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia #lebaran