Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Dosen Kedokteran UGM Sebut Satu Orang Terinfeksi Campak Bisa Tularkan kepada 18 Orang yang Lain

Delima Purnamasari • Senin, 16 Maret 2026 | 06:30 WIB

 

Imunisasi pada anak balita
Imunisasi pada anak balita
 

JOGJA - Kerumunan dan mobilitas masyarakat yang tinggi saat Lebaran berpotensi meningkatkan risiko penularan campak. Untuk itu, masyarakat diminta waspada, terutama bagi anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap.

Dosen Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) Dr dr Rr Ratni Indrawanti Sp.A(K) menjelaskan, satu orang yang terinfeksi campak bisa menularkan pada 12 hingga 18 orang yang lain.

Penyakit ini bisa menyebar lewat percikan ludah, seperti batuk, bersin, dan berbicara. "Apalagi ketika Lebaran banyak orang yang berkumpul, berkunjung, dan mungkin berpelukan," katanya saat dihubungi, Minggu (15/3).

Untuk mencegah penularan, Ratni menegaskan pentingnya mengikuti jadwal imunisasi campak, yaitu pada usia 9 bulan, 18 bulan, dan 5 tahun. Pengulangan ini diperlukan agar kekebalan tubuh terbentuk secara optimal.

Selain vaksin, ia mengingatkan pentingnya upaya pencegahan di masyarakat. Di antaranya menggunakan masker saat batuk dan pilek, mencuci tangan secara rutin, serta meningkatkan edukasi kesehatan kepada masyarakat.

Infeksi campak dia sebut juga bisa menular pada orang dewasa yang tidak memiliki kekebalan. Bisa jadi karena belum pernah terinfeksi atau saat anak-anak imunisasinya tidak lengkap. Ratni menyebut imunisasi sebenarnya tetap mungkin dilakukan saat dewasa.

Apabila sudah terlanjur terinfeksi, dia sebut sebenarnya seseorang bisa tetap berada di rumah jika tidak ada tanda bahaya. Penyakit ini disebut memang bisa sembuh sendiri. Pengidapnya cukup makan bergizi, istirahat, serta menjaga kebersihan.

Hal terpenting adalah melakukan isolasi agar tidak menularkan pada orang lain. "Kalau demam nanti minum obat turun panas karena campak itu tidak ada obat virus khususnya," tambahnya.

Walau demikian, Ratni meminta masyarakat tidak menyepelekan penyakit ini. Ketika seseorang tidak memiliki kekebalan, penyakit berpotensi menimbulkan komplikasi. Misalnya, radang otak, radang paru-paru, hingga diare hebat.

Ketika sudah masuk dalam kondisi ini maka harus segera dirujuk ke rumah sakit. "Penyakit yang menular lewat udara itu bahaya. Tentu saja akan lebih mudah berpindah pada orang lain," ujarnya.

Menurutnya, salah satu faktor utama yang berkontribusi terhadap meningkatnya kasus campak adalah menurunnya cakupan vaksinasi di masyarakat. Penurunan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti keterbatasan akses layanan kesehatan, jarak yang jauh, hingga berkurangnya kegiatan imunisasi di tingkat masyarakat.

Selain itu, penyebaran informasi yang keliru mengenai vaksin di media sosial yang memengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap imunisasi. (del/laz)

 

 

Editor : Sevtia Eka Novarita
#FK-KMK UGM #imunisasi campak #penularan #kekebalan tubuh #campak