JOGJA - Kasus positif campak di DIY mengalami peningkatan dalam beberapa waktu terakhir. Dinas Kesehatan (Dinkes) DIY memberikan tips untuk meminimalisasi penularan, terlebih di saat mudik Lebaran nanti.
Kepala Dinkes DIY Gregorius Anung Trihadi mengatakan, tahun 2026 (data terakhir 3 Maret) jumlah suspek campak di DIY ada 349. Kemudian campak positif sebanyak 57 kasus. "Tidak ada kasus campak yang meninggal dunia di DIY," ujarnya saat dikonfirmasi, Rabu (11/3).
Tren peningkatan kasus campak juga terjadi secara nasional. Kondisi ini cukup menjadi perhatian pemerintah, terlebih mobilitas masyarakat di momen libur Lebaran ini umumnya tinggi. "Apabila kasus positif masih ada, potensi penularan jelas mungkin terjadi," bebernya.
Ia memberikan tips kepada masyarakat, khususnya bagi mereka yang melaksanakan mudik. Terutama untuk anak-anak dan balita agar dipastikan sudah mendapatkan imunisasi campak lengkap. "Untuk meminimalkan penularan, apabila ada yang sakit terutama demam, sebaiknya istirahat di rumah," paparnya.
Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) juga wajib diterapkan oleh seluruh masyarakat di setiap kegiatan. Apabila terpaksa harus bepergian dan bertemu banyak orang, direkomendasikan untuk menggunakan masker. "Cuci tangan pakai sabun dan air mengalir," ucapnya.
Selain itu, balita dan ibu hamil juga harus dijauhkan dari suspek penderita campak. Pasien suspek campak biasanya ditandai dengan demam dan seringkali diikuti keluarnya ruam kemerahan pada kulit. "Cakupan imunisasi campak tahun 2025 dosis 1 yaitu 98,2 persen dan dosis 2 yaitu 96,1 persen," jelasnya.
Menurutnya, capaian imunisasi program di DIY terkategori baik capaiannya untuk mencapai herd immunity (kekebalan komunitas). Dinkes DIY terus melakukan edukasi berjenjang. Namun diakui masih terdapat kelompok kecil yang menolak imunisasi di beberapa wilayah di DIY.
"Sebagian sudah dilakukan pendekatan maupun advokasi kepada nonsektor kesehatan (sektor pendidikan, sektor keagamaan) untuk membantu sesuai kewenangannya. Mamun masih ada yang tetap menolak karena keyakinannya," tandasnya.
Ia berharap masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan bisa memahami bahwa penyakit campak sangat cepat dan mudah menular. Penyakit ini juga dapat menimbulkan komplikasi yang cukup serius, khususnya untuk anak balita. "Utamakan pencegahan paling efektif melalui imunisasi dan PHBS," tambahnya. (oso/laz)
Editor : Sevtia Eka Novarita