JOGJA - Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) tahun ini memasuki usianya yang ke-271 tahun. Angka ini bukanlah usia yang tergolong muda. Pembangunan terus dilakukan. Banyak yang berkembang dan maju, ada pula yang masih menjadi catatan bagi warganya.
Salah seorang warga Bangunjiwo, Bantul Haris Kurniawan menyampaikan turut serta bahagia memperingati Hari Jadi ke-271 DIJ. Ia yang lahir dari tanah DIJ senantiasa berharap akan kemajuan tanah kelahirannya itu. Namun, sebagai masyarakat yang ingin bersuara, Haris juga menyampaikan beberapa catatan kritis dari pengalaman pribadinya. "Masalah transportasi umum, saya masih bingung dengan regulasi yang ada," ujarnya saat dikonfirmasi, Kamis (12/3).
Ia yang hobi traveling dengan memanfaatkan Bus Trans Jogja itu secara spesifik mempertanyakan aturan tentang operasional bajaj yang marak di DIJ, khususnya di perkotaan. Berdasarkan berita yang ia baca, transportasi bajaj masuk dalam moda ilegal. Namun ia masih menemui transportasi itu semrawut di jalanan.
"Dengan adanya gelontoran dana keistimewaan (danais), saya sangat berharap pemerintah bisa melakukan penataan dengan tegas. Perlu adanya diskusi untuk mencapai titik terang dan bukan hanya melarang," bebernya.
Selain transportasi umum, ia juga berharap pariwisata di DIJ, khususnya yang masuk dalam objek wisata kecil tingkat desa dikembangkan kembali. Apabila sektor itu berjalan baik, ia yakin perekonomian masyarakat akan meningkat. "Masyarakat akan mengeluarkan usaha yang sedikit untuk bisa survive jika memang sektor itu berjalan," tandasnya.
Ia juga merasa miris melihat berita terkait kejahatan jalanan, terutama klithih yang masih banyak terjadi di DIJ. Fenomena klithih, lanjutnya, saat ini suah terang-terangan. Bahkan kelompok itu berani menyerang warga sekitar. "Perlu adanya pendidikan yang signifikan agar para pelajar ada perubahan sikap," tegasnya.
Namun, keresahan-keresahan yang dirasakan, menurutnya, tidak mengurangi rasa cintanya kepada DIJ. Sebagai masyarakat, ia hanya bisa menyampaikan kritik yanng membangun dan berusaha melakukan tindakan kecil. "Setidaknya aku tidak melakukan hal hal yang merugikan orang lain," jelasnya.
Warga Bimomartani, Sleman Ridho Surya juga menyampaikan catatan kritisnya. Terutama pada event pemerintah yang banyak digelar. Ia sangat berharap event pelestarian budaya tidak hanya sebatas formalitas dan seremonial belaka. "Esensi dan tujuan dari acara harus jelas. Tidak hanya sekadar menggugurkan kewajiban semata," ucapnya.
Terpisah, Sekretaris Provinsi (Sekprov) DIJ Ni Made Dwipanti Indrayanti berharap DIJ yang berusia 271 tahun bisa semakin maju, mandiri dan sejahtera. Nilai-nilai luhur kebudayaan yang ada juga tetap dipegang teguh dan dilestarikan.
"Berani menghadapi tantangan zaman dengan satu kesatuan yang harmonis antara pemerintah daerah dengan masyarakat," ujarnya.
Aspek yang akan ditingkatkan secara maksimal adalah kemandirian dan peningkatn ekonomi masyarakat. Walaupun setiap tahun angka kemiskinan menurun dan ketimpangan sosial menyempit, ia tidak merasa puas dan tetapkan mengupayakan yanng terbaik. "Penanganan kemiskinan itu termasuk aspek yang akan selalu kami tingkatkan," jelasnya. (oso/laz)