JOGJA - Musim penghujan di Yogyakarta kemungkinan akan lebih lama. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi hingga Mei.
Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Yogyakarta Reni Kraningtyas mengatakan, berdasarkan pengamatan gejala fisis dan data dinamika atmosfer curah hujan pada bulan Maret masuk kriteria menengah-tinggi. Intensitasnya berkisar antara 151 hingga 400 mm/bulan.
Kemudian untuk bulan April berkisar antara 101 hingga 300 mm/bulan atau masuk kategori menengah. Sementara di bulan Mei intensitas hujan berada di kisaran 21-150 mm/bulan atau masuk kategori rendah menengah.
“Sehingga kami menghimbau kepada pemerintah daerah, institusi terkait dan seluruh masyarakat untuk lebih siap dan antisipatif terhadap dapat musim penghujan,” ujar Reni, Selasa (10/3/2026).
Dengan kondisi tersebut, puncak musim kemarau di Yogyakarta diprediksi baru terjadi di bulan Agustus dengan durasi 16 hingga 21 dasarian. Kemudian kembali memasuki musim penghujan antara bulan Oktober atau November.
Reni menyatakan, bahwa di periode bulan Maret ini masih memasuki puncak musim penghujan. Sehingga dia meminta agar pemerintah dan masyarakat menyiapkan mitigasi terhadap potensi cuaca ekstrem.
Terutama di wilayah rawan banjir, tanah longsor dan angin kencang. Upaya yang dapat dilakukan dengan membersihkan saluran-saluran air, memangkas dahan pohon, memastikan kekuatan baliho-baliho di jalan raya.
“Penting juga melakukan penyesuaian pola tanam,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Tim Kerja Pencegahan dan Kesiapsiagaan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Jogja Darmanto memastikan bahwa status siaga darurat bencana hidrometeorologi resmi diperpanjang. Berlaku hingga akhir Maret mendatang.
Kebijakan tersebut tertuang dalam Keputusan Wali Kota Jogja Nomor 135 tahun 2026. Melalui kebijakan tersebut maka koordinasi lintas sektor akan ditingkatkan dan mitigasi bencana hidrometeorologi lebih diperkuat.
“Kota Jogja merupakan wilayah perkotaan yang dilalui beberapa sungai seperti Code, Winongo, dan Gajah Wong, maka potensi yang paling sering muncul adalah pohon tumbang, genangan, serta gangguan pada infrastruktur perkotaan,” beber Darmanto. (inu)
Editor : Heru Pratomo