Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Masjid Kian Masif Sediakan Buka Puasa Gratis, Pengaruhi Eksistensi Pasar Ramadan Dadakan

Delima Purnamasari • Minggu, 8 Maret 2026 | 20:26 WIB

 

Pasar Ramadan dadakan pada sore hari menjelang buka puasa.
Pasar Ramadan dadakan pada sore hari menjelang buka puasa.

JOGJA - Bulan Ramadan dikenal sebagai momentum pergerakan roda ekonomi. Adanya peningkatan permintaan turut ditandai dengan menjamurnya Pasar Ramadan. Pusat kuliner takjil untuk berbuka puasa ini hadir di pusat perkotaan hingga perkampungan. Namun, kondisi ekonomi yang menurun dinilai memengaruhi eksistensinya.


Dosen Ekonomi Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Y. Sri Susilo menilai, Pasar Ramadan yang permanen digelar tiap tahun kondisinya cukup konstan. Misalnya di Kampung Ramadan Jogokariyan dan Pasar Sore Ramadan Kampung Kauman.


Persoalannya adalah, Pasar Ramadan dadakan yang umum digelar di pinggir-pinggir jalan. Dia sebut jumlahnya cenderung menurun. Menurutnya, kondisi ini dipengaruhi karena menjamurnya takjil di masjid yang dibagikan secara gratis.


Saat ini operasionalnya semakin terorganisasi. Kuantitas dan kualitaanya juga cenderung meningkat. Makanan dan minuman ini dia sebut tidak eksklusif di sediakan masjid-masjid besar saja, tetapi juga masjid di perkampungan sehingga menjadi daya tarik tersendiri.


"Tentu ini artinya permintaan dari masjid untuk UMKM meningkat. Tetapi Pasar Ramadan yang dadakan cenderung berkurang," katanya dihubungi, Minggu (8/3).


Susilo mengakui, kondisi ekonomi memang makro belum pulih sepenuhnya seperti sebelum pandemi. Di sisi lain, ada pemutusan hubungan kerja di sektor industri tertentu dan jumlah penduduk golongan menengah juga turun. Kondisi ini jelas mengurangi permintaan. Hanya saja, dia menyebut Ramadan adalah momentum luar biasa. Tidak hanya bagi umat muslim, tetapi bagi seluruh masyarakat.


Saat Ramadan kualitas makanan kalangan menengah ke bawah cenderung meningkat. Ada juga faktor tunjangan hari raya yang mampu menambah daya beli. Tambahan satu kali gaji ini memang tetap disadari masyarakat untuk lebih hemat dan menabung lebih banyak. Akan tetapi, juga bisa menambah alokasi belanja.


"Meski secara makro belum pulih, khusus Ramadan itu ekonomi bisa tumbuh meski ada konsekuensi inflasi meningkat," katanya.


Dia juga menilai, banyak pedagang di Pasar Ramadan tidak seluruhnya berorientasi pada ekonomi. Beberapa mahasiswa menjadikan momen ini sebagai media mencari pengalaman untuk membuat produk dan berjualan. Termasuk bagi para ibu rumah tangga yang menyalurkan hobinya. Kalau pun dagangannya tersisa, biasanya dibeli atau dikonsumsi mandiri.


Sementara untuk pedagang profesional yang sudah konsisten berjualan saat Ramadan, dia sebut sudah memahami produknya. Pelaku lama ini biasanya menyesuaikan jenis dagangan dengan menu takjil yang umum. Mulai dari makanan kecil, minuman, hingga lauk pauk.


Mereka juga kerap menggeser lokasi jualannya dengan membuka lapak di Pasar Ramadan yang strategis. "Lokasi ini penting karena kadang orang beli itu mendadak dan sekadar berhenti cari makanan berbuka," tambah Susilo. (del/laz)

 

Editor : Herpri Kartun
#takjil gratis #pasar ramadan #buka puasa gratis #Universitas Atma Jaya Yogyakarta #masjid #Y Sri Susilo #umkm indonesia #UAJY