JOGJA - Menu-menu yang disajikan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hentinya menjadi sorotan publik. Terlebih berkaitan dengan kandungan gizi pada makanan kering selama bulan ramadan ini. Ahli Gizi UGM Rio Jati Kusuma pun memberikan penjelasan.
Rio mengatakan, setiap tenaga gizi yang terlibat dalam program MBG seharusnya sudah dibekali kemampuan teknis untuk menghitung nilai gizi secara akurat. Sepengetahuannya, ada dua metode yang dilakukan dalam setiap penghitungan kandungan gizi makanan.
Pertama, analisis secara langsung menggunakan perangkat laboratorium seperti bomb calorimeter untuk mengukur kalori. Lalu teknik Kjeldahl untuk protein, dan Soxhlet untuk lemak. Metode tersebut biasanya dilakukan oleh perusahaan besar untuk mencapai hasil yang presisi.
Kemudian metode kedua menggunakan Tabel Komposisi Pangan Indonesia (TKPI). Metode tersebut bisa dilakukan oleh masyarakat umum karena penjelasan soal kandungan gizi bahan makanan bisa diakses melalui website resmi milik pemerintah.
“Semua sudah detail, mulai dari telur puyuh hingga bahan lainnya, sudah ada penjelasan terkait data protein, lemak, hingga vitaminnya," ujar Rio kepada Radar Jogja, Selasa (3/3/2026).
Dosen dan peneliti Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan UGM itu menegaskan, selama Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) melibatkan tenaga gizi profesional. Maka klaim kandungan gizi pada label gizi di menu MBG seharusnya dapat dipertanggungjawabkan.
Kendati begitu, dia memberi catatan terkait masih banyaknya pengelola MBG yang menggunakan ultra processed food (UPF) pada menu yang diberikan kepada anak-anak. Misalnya memberikan susu UHT berasa coklat dan stroberi, nugget, sosis, hingga roti dengan margarin tinggi lemak trans.
Menurut Rio, UPF menjadi pemicu utama penyakit metabolik. Sebab karakteristiknya yang tinggi kalori, tinggi lemak jenuh, tinggi lemak trans, serta mengandung gula tambahan yang seringkali tersembunyi.
"Studi menunjukkan adanya kaitan erat antara konsumsi UPF dengan peningkatan risiko penyakit seperti diabetes melitus, jantung koroner, dan obesitas pada remaja," jelasnya.
Sebagai bentuk evaluasi, Rio menyarankan agar SPPG memberikan bahan makanan kepada orang tua atau sekolah agar bisa diolah sendiri. Dibanding memberikan makanan yang masuk kategori UPF atau pabrikan yang biasanya mengandung pengawet.
Dia menilai, bahan makanan (real food) yang diolah mandiri juga cenderung memiliki kandungan garam yang lebih rendah dan tanpa gula tambahan. Kelebihan lain, sekolah atau orang tua juga bisa ikut mengawasi pengolahan makanan.
“Jika makanan dimasak secara rumahan atau melalui kantin sekolah dengan pengawasan, cita rasanya lebih alami dan lebih sehat bagi anak-anak," tambahnya. (inu)
Editor : Iwa Ikhwanudin