Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

John Tobing, Pencipta Lagu 'Darah Juang' yang Kobarkan Semangat Reformasi 1998, Meninggal di RSA UGM Yogyakarta

Editor Content • Kamis, 26 Februari 2026 | 05:27 WIB

Johnsony Maharsak Lumban Tobing atau yang akrab disapa John Tobing, pencipta lagu legendaris 'Darah Juang', meninggal dunia pada Rabu (25/2/2026) malam pukul 20.45 WIB.
Johnsony Maharsak Lumban Tobing atau yang akrab disapa John Tobing, pencipta lagu legendaris 'Darah Juang', meninggal dunia pada Rabu (25/2/2026) malam pukul 20.45 WIB.

YOGYAKARTA – Kabar duka mendalam datang dari dunia aktivisme dan pergerakan Indonesia. Johnsony Maharsak Lumban Tobing atau yang akrab disapa John Tobing, pencipta lagu legendaris 'Darah Juang', meninggal dunia pada Rabu (25/2/2026) malam pukul 20.45 WIB di Rumah Sakit Akademik (RSA) Universitas Gadjah Mada (UGM), Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

John Tobing sempat dirawat sejak subuh hari yang sama di RSA UGM. Sebelumnya, ia menjalani perawatan panjang sejak pertengahan Desember 2025 akibat stroke. Penyebab pasti kematian belum diperoleh keterangan resmi dari dokter, namun menurut informasi dari keluarga terdekat, ada indikasi serangan jantung.

Kabar duka ini langsung dikonfirmasi rekan seperjuangannya, Joko Utomo. “Iya benar (John) meninggal di RSA UGM. Masuk ke RS subuh tadi. Meninggal pukul 20.45 WIB di RSA UGM,” ujar Joko saat dihubungi wartawan, Rabu malam. 

Keluarga saat ini masih membahas rencana pemakaman dan akan memberikan informasi lebih lanjut.

John Tobing, alumnus Fakultas Filsafat UGM angkatan 1986, lahir di Binjai, Sumatera Utara. Ia menetap di Kecamatan Kalasan, Kabupaten Sleman, bersama istri Dona dan ketiga anaknya. Sebagai aktivis generasi 1980-1990-an, sosoknya dikenal luas di kalangan mahasiswa Yogyakarta dan nasional sebagai maestro lagu perlawanan.

Lagu 'Darah Juang' Jadi Himne Abadi Reformasi

Lagu 'Darah Juang' diciptakan John sekitar tahun 1991-1992 di kontrakan Pelem Kecut, Gejayan, Yogyakarta. Melodi lahir dari gitar akustiknya, sementara lirik digodok bersama teman serumah Dadang Juliantara (Fakultas MIPA UGM) dan direvisi aktivis lain, termasuk Budiman Sudjatmiko yang mengusulkan mengganti “Tuhan” menjadi “Bunda” agar lebih menyentuh.

Lirik ikoniknya:

“Bunda, relakan darah juang kami

Padamu kami berjanji…

Padamu kami mengabdi…”

Lagu ini meledak menjadi anthem Gerakan Reformasi 1998. Ribuan mahasiswa menyanyikannya saat menduduki gedung DPR/MPR, aksi-aksi di Yogyakarta, hingga pemakaman tokoh seperti Pramoedya Ananta Toer. John sendiri baru mengetahui dampak lagunya pada 2010 dan sempat terkejut bahwa karyanya turut “menjatuhkan” Soeharto.

Sepanjang hidupnya, John menciptakan lebih dari 500 lagu, meski ia tidak bisa membaca not balok. Ia juga pernah menjabat Wakil Ketua PDI Perjuangan Riau sebelum fokus kembali ke aktivisme dan keluarga.

Wakil Menteri Hak Asasi Manusia Mugiyanto, yang juga berasal dari generasi gerakan yang sama, turut berduka. “John Tobing meninggal di RSA UGM,” katanya, seraya menyampaikan kehilangan atas sosok aktivis yang selalu membakar semangat keadilan.

Dunia pergerakan Yogyakarta dan Indonesia kehilangan salah satu maestro yang karyanya terus mengalir di setiap aksi mahasiswa hingga kini. Selamat jalan Bang John. Darah Juangmu abadi. (iwa) 

Editor : Iwa Ikhwanudin
#himne reformasi #radar jogja berita duka #pencipta lagu darah juang meninggal #aktivis ugm meninggal #john tobing sleman #darah juang reformasi 1998 #rsa ugm berita #lagu darah juang john tobing #john tobing rsa ugm #john tobing yogya #aktivis 98 meninggal #john tobing meninggal #duka cita jogja