Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pasca-Libur Nataru, BPS Sebut Kota Jogja Alami Deflasi Signifikan: Ini Penyumbang Utamaya..

Iwan Nurwanto • Senin, 2 Februari 2026 | 19:25 WIB

 

Statistisi Ahli Madya BPS Kota Jogja Fandi Akhmad saat ditemui di kantornya, Senin (2/2/2026).
Statistisi Ahli Madya BPS Kota Jogja Fandi Akhmad saat ditemui di kantornya, Senin (2/2/2026).

JOGJA - Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Jogja melaporkan adanya deflasi cukup tajam pada awal tahun ini.

Kondisi tersebut akibat adanya penurunan permintaan barang dan jasa pasca-masa libur panjang akhir tahun.

Statistisi Ahli Madya BPS Kota Jogja Fandi Akhmad mengatakan, deflasi pada Desember 2025 ke Januari 2026 tercatat mencapai 0,14 persen.

Penyumbang terbesar deflasi pada komoditas makanan, minuman, dan tembakau dengan angka 0,41 persen.

Kemudian disusul sektor transportasi sebesar 0,06 persen, sektor rekreasi 0,01 persen.

Fandi menyebut, deflasi lumrah terjadi pada awal tahun karena pada bulan sebelumnya terjadi inflasi cukup tinggi akibat momen libur akhir tahun.

Sementara memasuki Januari permintaan barang dan jasa kembali normal. Terkhusus pada sektor-sektor yang bergerak di bidang jasa pariwisata.

“Penyumbang deflasi memang didominasi makanan dan juga transportasi, karena trennya memang ada fluktuasi harga saat nataru dan libur sekolah,” ujar Fandi saat ditemui di kantornya, Senin (2/2/2026).

Meski mengalami deflasi secara bulanan, BPS Kota Jogja tetap mencatat adanya inflasi sebesar 3,55 persen dalam periode tahunan.

Hal tersebut disebabkan karena kenaikan harga emas yang cukup signifikan.

Fandi mengungkap, inflasi harga emas memang tidak dapat dibendung karena harganya yang cenderung terus mengalami kenaikan.

Faktanya di awal 2025 lalu harga emas berada di harga Rp 1,6 juta per gram. Sementara saat ini telah menyentuh Rp 3,02 juta per gram.

“Emas perhiasan tetap menjadi komoditas dominan penyumbang inflasi karena faktor kondisi global,” bebernya.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Bidang Ketersediaan Pengawasan dan Pengendalian Perdagangan Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Jogja Sri Riswanti membenarkan sejumlah komoditas mengalami penurunan signifikan pasca-libur akhir tahun. Contohnya pada komoditas cabai.

Untuk komoditas cabai rawit merah yang sebelumnya menyentuh harga Rp 60 ribu per kilogram pada akhir tahun, menjadi Rp 45 ribu di awal tahun.

Kemudian memasuki pertengahan bulan ini kembali ke harga Rp 60 ribu. Sementara untuk cabai rawit keriting stabil di Rp 40 ribu per kilogram sejak pekan lalu.

“Kalau cabai memang naik turunnya itu fluktuatif,” ungkapnya. (inu/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#makanan #transportasi #Libur NATARU #BPS Kota Jogja #deflasi