Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Wasapda, Kasus DBD Masih Jasi Ancaman di Kota Jogja: Dinkes Imbau Gerakan 3M Plus Harus Digencarkan Masyarakat

Iwan Nurwanto • Rabu, 28 Januari 2026 | 20:05 WIB
Pengendara sepeda motor menembus hujan yang mengguyur kawasan Pasar Beringharjo, Kota Jogja, Rabu (28/1/2026).
Pengendara sepeda motor menembus hujan yang mengguyur kawasan Pasar Beringharjo, Kota Jogja, Rabu (28/1/2026).

JOGJA - Penyakit demam berdarah dengue (DBD) masih menjadi ancaman di Kota Jogja.

Sebab Dinas Kesehatan (Dinkes) hanya mencatat penurunan 31 kasus dalam kurun waktu satu tahun terakhir.

Epidemiolog Kesehatan Dinkes Kota Jogja Anandi Iedha Retnani mengatakan, pada 2024 DBD mencapai 301 kasus.

Kemudian tercatat 270 kasus pada 2025. “Jadi ada penurunan, meski angkanya masih mendekati tahun sebelumnya,” ujar Anandi di Balai Kota Jogja, Selasa (28/1/2026).

Menurutnya, Dinkes Kota Jogja terus berupaya agar kasus DBD terus ditekan. Program yang sudah dilakukan dengan penyebaran nyamuk ber-wolbachia.

Anandi mengklaim, 87,2 persen populasi nyamuk di Kota Jogja pada 2024 sudah mengandung wolbachia.

Artinya sebagian besar nyamuk sudah tidak memiliki kemampuan untuk menyebarkan virus DBD.

Meskipun begitu penyebaran DBD tidak kemudian bisa dicegah sepenuhnya. Oleh karena itu, intervensi masyarakat untuk melakukan gerakan pemberantasan sarang nyamuk tetap harus dilakukan.

Anandi berharap masyarakat tetap melaksanakan gerakan 3M Plus. Yakni menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah penampungan air, dan mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menampung air.

 Baca Juga: Pendaki Hilang di Bukit Mongkrang Belum Ditemukan, Sekda Jateng Cek Langsung Upaya Pencarian

“Kemudian plus-nya, mencegah gigitan nyamuk dan menjaga kebersihan lingkungan,” tambahnya.

Selain itu, dinkes terus mendorong agar masyarakat akrif dalam gerakan Satu Rumah Satu Jumantik.

Sehingga tempat tinggal masyarakat bisa terus terpantau dan bebas dari jentik nyamuk.

Sementara soal fogging, hanya dilakukan sebagai langkah terakhir. Itu pun dengan pertimbangan apabila ditemukan kasus dan angka bebas jentik (ABJ) di bawah 95 persen.

“Karena fogging hanya membunuh nyamuk dewasa dan tidak menyasar jentik,” bebernya.

Kepala Seksi Pengendalian Penyakit Menular dan Imunisasi Dinkes Kota Jogja Endang Sri Rahayu menambahkan, pada puncak musim penghujan penyebaran DBD perlu diwaspadai.

Sebab dengan tingkat kelembaban yang tinggi dapat membuat nyamuk mudah berkembang biak.

“Perlu dilakukan upaya pencegahan secara masif dan serentak agar kasus tidak melonjak drastis,” pesan Endang. (inu/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#Gerakan 3M Plus #curah hujan #ancaman #Dinkes Kota Jogja #DBD #demam berdarah dengue