JOGJA - Fasilitas los yang dikhususkan bagi penjahit di bangunan Pasar Terban ternyata kurang memenuhi kebutuhan.
Alhasil, para penjahit yang direlokasi dari Jalan Dr Sardjito itu terpaksa melakukan perombakan sendiri.
Yunus Wahyu misalnya. Pemilik Jasa Servis Tas dan Koper Pak Is ini mengaku harus memapras meja beton di los lantai dua Pasar Terban.
Sebab kondisi meja yang disiapkan tidak representatif untuk penempatan mesin jahit.
Pantauan Radar Jogja pada Kamis (15/1/2026), Wahyu tampak sibuk menggunakan perkakas untuk mengubah los.
Dia memapras meja beton berkeramik sekitar 1 meter kali 50 sentimeter agar mesin jahit miliknya bisa masuk.
"Jadi merombak dalam arti karena tidak sesuai dengan penjahit,” ujar Yunus saat ditemui di Pasar Terban, Kamis (15/1/2026) sore.
Ia menyayangkan tidak adanya komunikasi dengan penjahit sebelum los lantai dua Pasar Terban dibangun.
Sehingga spesifikasinya pun tidak sesuai dengan kebutuhan penjahit. Lalu terpaksa diubah sebelum ditempati.
Meskipun demikian, dia optimistis bangunan baru Pasar Terban bisa membawa rezeki bagi penjahit yang telah direlokasi.
Sebab lokasinya cukup nyaman. Walaupun memang tidak langsung berada di pinggir jalan seperti lokasi yang dia tempati sebelumnya.
Baca Juga: Buntut TPST Piyungan Tak Lagi Terima Sampah, Depo-Depo di Kota Jogja Terdampak
"Insya Allah semoga ada titik baik untuk kemudahan dan kelancaran kami. Itu saja harapannya,” tutur Yunus.
Di lantai atas, pedagang kuliner Santoso yang direlokasi dari Jalan Kahar Muzakir mengeluhkan desain pasar kurang terbuka. Kondisi tersebut berdampak pada munculnya bau kurang sedap dari lantai bawah.
Desain bangunan baru Pasar Terban sendiri memiliki tiga lantai. Lantai paling bawah difungsikan sebagai pasar tradisional dan rumah potong unggas.
Lalu lantai dua diisi pasar buku dan jasa penjahit. Sementara lantai tiga dijadikan pasar kuliner dan pusat jajanan serba ada (pujasera).
"Sebenarnya saya bersyukur dikasih lapak di sini, tapi mohon maaf agak bau. Jadi mungkin kurang nyaman untuk pedagang ramesan seperti saya,” kata Santoso.
Selain masalah bau, dia juga menyoroti kurangnya fasilitas bagi pedagang kuliner. Salah satunya meja kursi selayaknya food court atau tempat makan modern.
Namun Santoso menilai hal itu bukan masalah besar. Sebab ketika seluruh pedagang nantinya menempati lapak-lapak di Pasar Terban pasti akan ada kreativitas supaya menarik pengunjung.
"Kalau saya memilih tetap optimistis dan mencoba beradaptasi dengan keterbatasan yang ada,” katanya.
Dikonfirmasi terpisah, Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo menyatakan, bangunan Pasar Terban sampai saat ini belum diserahterimakan oleh pihak kontraktor. Sehingga statusnya masih dalam tahap uji coba.
Selama masa itu, pihaknya akan mengevaluasi berbagai kekurangan. Termasuk jika ada keluhan yang dirasakan oleh pedagang.
Maka pihaknya segera menidaklanjuti supaya tidak menghambat aktivitas ekonomi di pasar tersebut.
"Sifatnya masih uji coba sambil evaluasi kekurangan. Sehingga kalau masih ada keluhan akan segera kami laporkan untuk ditindaklanjuti," beber Hasto lewat pesan singkat. (inu/laz)
Editor : Herpri Kartun