Longsor menyebabkan rumah yang dihuni dua lansia tersebut menggantung.
Pemilik rumah Kliwon menyampaikan, longsor talud rumahnya terjadi pada Sabtu, (27/12) pagi.
Saat itu, keluarganya tengah beraktivitas sebagai pengolah nira kelapa menjadi gula jawa.
"Kejadiannya sekitar pukul 05.00 WIB, subuh," ucap Kliwon, saat ditemui Radar Jogja di kediamannya, Minggu (28/12).
Longsor berawal saat hujan deras melanda Kapanewon Kokap selama sehari penuh.
Dimulai saat sore hari, hingga dini hari hujan cukup lebat disertai angin kencang. Berlanjut saat subuh, rumah milik Kliwon sempat bergetar sesaat.
Getaran itu, diikuti suara benda jatuh dari belakang rumah, tepatnya area dapur. Suara itu, berlanjut dengan guguran batu dari belakang rumah.
Setelah dilihat, didapati talud belakang rumah miliknya longsor. Talud setinggi 15 meter dan panjang 10 meter jebol membawa material batu yang nyaris menutup jalan lingkungan.
"Talud longsor, lantai dapur yang didekat talud ikut amblas," ungkapnya.
Kliwon menyampaikan, kondisi dapur rumahnya amblas usai tanah dasaran ikut longsor terseret talud.
Kini rumahnya, menggantung di ujung tebing bekas talud. Kondisi itu, membuat keluarganya khawatir. Pasalnya, longsor talud berpotensi kembali terjadi.
Kekhawatirannya juga berlanjut, mengingat cuaca di awal tahun diprediksi hujan deras.
Untuk saat ini, keluarganya memilih tetap tinggal di rumah tersebut. Akan tetapi, tak mrlakukan aktivitas di sekitar area longsor.
Sementara itu, Dukuh Teganing 2 Pardi menyampaikan, hanya satu kejadian longsor di wilayahnya.
Namun, kejadian itu cukup parah. Lantaran, berdampak ke rumah penduduk secara langsung.
"Dari BPBD sudah mendiatribusikan bantuan, rencana warga akan kerja bakti," ungkapnya.
Melihat kondisi rumah yang menggantung, warga berencana melakukan kerja bakti.
Akan tetapi, menunggu cuaca dan kestabilan tanah. Akibat kejadian itu, diprediksi kerugian mencapai Rp 15 juta yang berasal dari kerusakan bangunan. (gas)
Editor : Bahana.