JOGJA - Semarak Natal tidak serta-merta dapat dirasakan oleh seluruh umat Kristiani. Sebagian mesti merayakannya di tengah duka, lantaran bencana yang terjadi di Sumatera. Termasuk para mahasiswa Jogjakarta yang tidak mudik meski libur panjang.
Ketua Umum Ikatan Keluarga Pelajar Mahasiswa (IKPM) Sumatra Utara Jogjakarta, Aulia Hamdi Dwi Syahroni menjelaskan, IKPM telah menggelar program mudik gratis dengan prioritas mahasiswa yang terdampak bencana. Kapasitasnya mencapai 47 orang, sehingga tidak semua bisa terakomodasi.
Di sisi lain, banyak yang memilih untuk ikut program ini. "Meski banyak non-muslim, mereka memilih tidak ikut karena kondisi keuangan minim," terangnya saat dihubungi di Radar Jogja, Rabu (24/12/2025).
Aulia memahami saat mudik memang memerlukan biaya lain-lain. Termasuk jika selama perjalanan ada kebutuhan mendadak. Mereka yang berada di Jogja ini akhirnya memilih merayakan Natal di Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) maupun Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS) di Jogjakarta.
Di sisi lain, kebutuhan makan jika menetap di Jogjakarta lebih terjamin. Mahasiswa Sumatera Utara dapat datang ke asrama dan diberikan makan gratis siang maupun malam. Termasuk jika ada fasilitas yang diperlukan. "Apalagi ini akhir bulan, semakin banyak teman yang datang ke asrama untuk bisa dapat makan," katanya.
Dia berharap, para mahasiswa Sumatera Utara yang terdampak tidak kehilangan esensi dan kenikmatan Natal. Mudah-mudahan dengan banyaknya bantuan, mereka bisa lebih tenang. Walau merayakannya tidak dihibur pesta meriah dan dibalut dengan kesedihan.
Menurutnya, berdasarkan keterangan relawan yang dikirim dari DIY ke Sumatera Utara, memang masih banyak infrastruktur yang belum pulih. Baik itu di Sibolga, Tapanuli Utara maupun Tapanuli Selatan.
Di sisi lain, warga khawatir dengan curah hujan yang masih tinggi. Akses internet, listrik, dan bantuan juga kerap terputus. "Beberapa wilayah masih terisolasi dan jalur darat belum bisa ditempuh. Harus menggunakan perahu," katanya.
Hal senada diungkapkan Plt Ketua IKPM Sumatera Barat Jogjakarta Zaki Naib. Dia menyebut, sebagian mahasiswa memilih mudik. Tidak hanya untuk liburan, tetapi berniat untuk jadi relawan agar kampungnya bisa segera pulih dari bencana. "Akses jalan ada yang belum bisa pakai mobil. Ada banjir susulan juga," katanya.
Dia menyebut, mahasiswa terdampak yang berada DIY memang tidak kurang-kurang bantuan, khususnya perkara makanan. Bahkan ada yang menyalurkan sembako hingga uang tunai.
Ini meringankan beban lantaran banyak yang mengeluh belum dikirimi uang saku dari orang tua. Di sisi lain, bingung mesti mencari kerja di mana jika harus mencari uang tambahan, padahal ini sudah akhir bulan.
"Banyak yang ngekos dan harus bayar sendiri," terang mahasiswa Universitas Cendekia Mitra Indonesia ini. Dia berharap ada bantuan hidup bagi mahasiswa. Termasuk seluruh kampus bisa mengurangkan biaya kuliah atau justru dihilangkan sepenuhnya jelang tahun ajaran baru ini. (del/laz)
Editor : Herpri Kartun