Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Pemanfaatan Platform Digital Bagi Pedagang Pasar Tradisional di Kota Jogja Terus Digenjot, Ini Yang Dilakukan..

Iwan Nurwanto • Minggu, 23 November 2025 | 04:31 WIB
Siluet anak dari pedagang melintas diantara lapak-lapak yang sepi di TKP ABA II di lahan bekas Menara Kopi, Kotabaru, Kota Jogja, kemarin (15/10). Kebijakan Pemkot Jogja untuk merelokasi para pedagang
Siluet anak dari pedagang melintas diantara lapak-lapak yang sepi di TKP ABA II di lahan bekas Menara Kopi, Kotabaru, Kota Jogja, kemarin (15/10). Kebijakan Pemkot Jogja untuk merelokasi para pedagang

JOGJA - Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Jogja mengungkap masih banyak pedagang pasar tradisional yang belum melek digitalisasi.

Salah satunya dalam hal pemanfaatan platform media sosial untuk mendongkrak penjualan.

Kepala Bidang Pasar Rakyat Disdag Kota Jogja Gunawan Nugroho Utomo mengatakan, dari total 13.000 pedagang di 29 pasar tradisional.

Belum ada separuh yang memanfaatkan platform digital untuk penjualan.

Gunawan menyebut, kendala mengenjot digitalisasi di kalangan pedagang tradisional karena masalah di sumber daya manusianya.

Lantaran mayoritas pedagang pasar rakyat sudah berusia tua. Sehingga sulit menggunakan smartphone.

“Kami mencoba mempersempit disparitas ini melalui pasar hybrid, jadi online-nya jalan, offline-nya juga jalan,” ujar Gunawan dalam kegiatan pelatihan UMKM Tangguh yang diselenggarakan WhatsApp dan UKMINDONESIA.ID di Hotel Santika, Rabu (19/11/2025).

Meski demikian, dia menegaskan, bahwa kedepan mau tidak mau pedagang pasar rakyat harus mulai memanfaatkan teknologi digital.

Lantaran jika hanya terus berkutat dengan cara tradisional maka akan ketinggalan zaman.

Menurut Gunawan, seiring dengan perkembangan teknologi, pola belanja masyarakat mulai mengalami pergeseran.

Yakni dari kebiasaan berbelanja secara langsung menjadi pembelian secara daring.

“Sehingga perlu adanya digitalisasi, salah satunya WhatsApp Business ini bisa menjadi etalase dan dapat fast response ketika ada pembeli,” jelasnya.

Policy Program Manager Meta Indonesia yang merupakan pengembang WhatsApp, Dessy Septiane Sukendar menyampaikan, pihaknya berkomitmen mendukung kemajuan UMKM di Indonesia.

Salah satunya melalui pelatihan dan inisiatif literasi digital.

“Dengan dukungan ini, kami berharap para pelaku usaha tidak hanya dapat bertahan menghadapi tantangan, tetapi juga mempercepat pertumbuhan di era digital,” ucap Dessy.

Sementara itu, Founder UKMINDONESIA.ID Dewi Meisari Haryanti menyatakan, mayoritas masyarakat Indonesia kini menggunakan WhatsApp.

Oleh karenanya penting bagi pelaku usaha untuk mengintegrasikan aplikasi WhatsApp Business ke dalam strategi komunikasi sehari-hari.

Dia menilai, upaya yang bisa dilakukan pelaku usaha dan pedagang adalah dengan menyusun pesan promosi yang bermanfaat. Lalu menggunakan katalog produk yang dikemas secara kreatif.

“Penting juga dilengkapi dengan penawaran yang berorientasi pada solusi dan tentunya promosi menarik,” tandas Dewi. (inu)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#platform digital #pedagang #pasar tradisional