JOGJA - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jogjakarta kembali mendeteksi adanya aktivitas siklonik.
Kondisi tersebut diprediksi meningkatkan curah hujan dalam beberapa hari ke depan.
Kepala Stasiun Meteorologi BMKG Jogjakarta Warjono mengatakan, berdasar hasil pantauan dinamika atmosfer telah mendeteksi siklon 97S.
Aktivitas siklonik tersebut terpantau di Samudera Hindia sebelah barat laut Australia.
Selain itu, pihaknya juga mendeteksi aktivitas siklonik di sekitar Kalimantan Barat. Serta pola siklonik di Samudera Hindia yang berlokasi di barat daya pulau Sumatera.
Kondisi itu memungkinkan terjadinya peningkatan curah hujan dalam beberapa hari ke depan.
“Adanya aktivitas siklonik mengakibatkan terbentuknya wilayah belokan angin dan pertemuan perlambatan kecepatan angin,” ujar Warjono saat dikonfirmasi lewat pesan singkat, Selasa (18/11/2025).
Di samping karena pengaruh siklon, menurutnya, suhu muka laut dalam skala harian maupun mingguan juga terpantau hangat.
Suhunya berkisar antara 28 hingga 30 derajat celcius dengan anomali hingga satu derajat celcius.
Selain itu, Warjono pun mengungkap profil kelembaban udara terkini juga berada pada ketinggian 1,0 hingga 2,5 kilometer.
Sehingga dapat meningkatkan peluang hujan ringan hingga sedang di wilayah DIY.
Seiring dengan peningkatan intensitas hujan, dia mengimbau agar masyarakat dan pemerintah daerah mulai bersiap menghadapi potensi bencana hidrometeorologi.
Seperti banjir, tanah longsor, puting beliung, pohon tumbang hingga sambaran petir.
“Hujan berpotensi turun merata di kabupaten/kota di DIY, terutama saat siang hingga sore hari,” bebernya.
Sementara itu, Wali Kota Jogja Hasto Wardoyo menyampaikan, sudah mengeluarkan SK Wali Kota Jogja Nomor 430/2025.
Berkaitan dengan penetapan status siaga darurat bencana banjir, talut longsor, dan cuaca ekstrem di Kota Jogja.
Hasto berharap, lewat kebijakan itu bisa semakin meningkatkan kewaspadaan masyarakat mencegah dampak bencana.
Keputusan tersebut berlaku hingga akhir November dan dapat diperpanjang sesuai kondisi.
“Saya kira surat edaran itu tujuannya agar jangan ada korban dan rumah roboh hanya gara-gara karena bencana alam,” jelasnya. (inu/wia)
Editor : Winda Atika Ira Puspita