JOGJA - Berangkat dari kalangan santri, Sekretaris Komisi D DPRD Kota Jogja Solihul Hadi mendukung penuh identitas Jogja sebagai kota santri berbudaya. Sebab gagasan tersebut relevan dan strategis untuk menjaga keistimewaan.
Solihul mengatakan, label kota santri berbudaya bukan julukan baru. Namun lebih kepada penegasan kembali akar sejarah dan budaya. Lantaran sudah sejak lama Jogjakarta telah memadukan nilai-nilai keislaman dengan kearifan lokal.
Karena hakikatnya, Jogjakarta telah memiliki DNA sebagai kota santri. Itu dibuktikan dengan sejarah Mataram Islam dan peran Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat sebagai penjaga kebudayaan sekaligus penyebar syiar Islam.
“Selain itu, pondok pesantren dan lembaga pendidikan Islam yang tumbuh subur di sini adalah bukti nyata bahwa Jogjakarta memiliki akar sejarah santri” ujar Solihul kepada Radar Jogja, Kamis (16/10).
Baca Juga: Angin Kencang Terjang Gunungkidul, dalam Sepekan 50 Rumah dan Fasilitas Umum Rusak
Politisi PKB ini menjelaskan, makna berbudaya menjadi kunci penting dalam gagasanya. Sebab santri di Kota Jogja tidak hanya dididik untuk menguasai ilmu agama. Namun harus bisa hidup selaras dengan budaya adiluhung yang diwariskan para leluhur.
Lewat perpaduan itu, maka para santri tidak hanya melaksanakan kegiatan formal keagamaan. Namun juga mengambil nilai-nilai penting dalam kehidupan budaya Jawa yang santun dan penuh filosofi.
Baca Juga: Swasembada Energi dan Pangan Warnai Setahun Pemerintahan Prabowo-Gibran
Jika itu bisa benar-benar diterapkan, maka santri di Kota Jogja tidak hanya memiliki kedalaman spiritualitas. Namun juga mendapatkan bekal keluhuran budi pekerti seorang budayawan.
“Karakter inilah yang diyakini dapat menjadi benteng utama dalam menghadapi degradasi moral dan tantangan sosial,” tegas Solihul.
Solihul pun memandang, budaya yang selama ini dilakukan oleh para santri juga dapat menjadi solusi masalah sosial di kalangan remaja. Misalnya seperti kenakalan remaja dan fenomena klithih.
Sebab ketika spirit kota santri berbudaya diimplementasikan dengan baik, maka masjid dan langgar akan kembali menjadi pusat kegiatan positif anak muda. Lalu ruang-ruang publik akan diisi dengan festival seni dan budaya yang bernafaskan Islami. Serta pendidikan di sekolah pun akan lebih menekankan pada adab dan etika.
”Kami di DPRD khususnya Komisi D ingin kota ini tidak hanya maju secara fisik, tetapi juga kokoh secara spiritual dan mulia secara budaya," tandasnya. (*/inu/eno)
Editor : Sevtia Eka Novarita