Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Gelombang Laut Sulit Diprediksi, Perhitungan Tradisional Meleset

Heru Pratomo • Jumat, 19 September 2025 | 03:20 WIB
MINIMALISASI KORBAN JIWA: Sekertaris Satlinmas Rescue Istimewa Wilayah II Baron Surisdiyanto sedang mempraktikkan pertolongan pertama terhadap korban laka laut.
MINIMALISASI KORBAN JIWA: Sekertaris Satlinmas Rescue Istimewa Wilayah II Baron Surisdiyanto sedang mempraktikkan pertolongan pertama terhadap korban laka laut.

JOGJA - Kejadian kecelakaan laut (laka laut) selama kurun waktu 2025 yang menimpa nelayan, mayoritas dialami nelayan senior yang notabene sudah hafal medan. Perhitungan tradisional dengan menghitung pergerakan ombak yang selama ini turun-temurun dilakukan pun beberapa kali meleset.


"Kemarin yang di Trisik itu juga nelayan senior, setelah kami cari informasi. Jadi kondisi gelombang air laut akhir-akhir ini sulit diprediksi," ujar Kepala Bidang Perikanan Tangkap Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) DIJ Catur Nur Amin saat dihubungi melalui sambungan telepon, kemarin (18/9).


Berdasarkan informasi yang diperoleh dari para nelayan, kejadian di Trisik juga dikarenakan perhitungan manual yang meleset. Pada saat perahu akan mendarat, nelayan merasa sudah sesuai perhitungan karena sudah tidak ada lagi gelombang dari belakang.


"Ternyata ada gelombang besar dari belakang," bebernya.


Dari sana, ia menyimpulkan perhitungan secara manual tersebut memang sangat membantu para nelayan dan merupakan ilmu yang sudah sejak lama digunakan. Namun, karena cuaca sukit ditebak, para nelayan juga diimbau untuk selalu melihat prakiraan cuaca dari BMKG.


"Informasi dari BMKG itu sudah sampai ke para nelayan melalui grup Whatsapp jadi mereka bisa mengaksesnya dengan mudah," jelasnya.


Metode perhitungan tradisional yang biasa dipakai nelayan adalah mengamati tanda-tanda alam seperti pola angin, arus, dan kondisi laut, serta menggunakan pengalaman dan pengetahuan lokal. Sebelum memutuskan berlayar atau mendarat itu, para nelayan menghitung gelombang.


"Misalnya energi (gerak angin) darat dan laut itu sama nanti kan akan netral. Jadi tidak ada gelombang besar. Pada saat itu, kapal nelayan berani masuk," jelasnya.


Menurutnya, perhitungan tradisional melalui gelombang tersebut masih relevan dan cukup akurat. Para nelayan juga sudah terbiasa dengan perhitungan semacam itu. Selama ini, mereka mengandalkan ilmu titen itu untuk melihat cuaca dan gelombang.


"Misal dari awal ada peringatan gelombang besar berdasarkan peringatan BMKG, mereka sudah tidak berani melaut," paparnya.


Pihaknya mengimbau para nelayan agar tetap waspada dan hati-hati. Seperti memastikan keselamatan dengan menggunakan jaket pelampung. Barang tersebut wajib dipakai sesuai dengan ketentuan penggunaannya.


"Terlebih berhadapan dengan alam yang susah diprediksi," tandasnya.


Mereka awalnya cukup terganggu menggunakan jaket pelampung saat melaut karena merasa tidak bebas bergerak. Terutama pada saat menarik jaring di tengah laut.


"Kami tekankan, pokoknya saat mau masuk dan mendarat harus wajib pakai pelampung," tandasnya.


Menurutnya, saat ini kesadaran terkit keselamatan para nelayan sudah lebih tinggi. Mereka otomatis akan memakai pelampung apabila berangkat melaut. Bahkan di daerah Congot, para nelayan memodifikasi jaket pelampungnya sendiri agar lebih aman sesuai kebutuhan.


Ada 19 titik pendaratan perahu nelayan di seluruh DIJ. Masing-masing kelompok nelayan akan saling mengingatkan untuk menjaga keselamatan dengan memastikan menggunakan pelampung sebelum e melaut kepada sesama rekannya.


"Terutama ketua kelompoknya yang akan mengawasi anggota-anggotanya," tandasnya.


Terpisah, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIJ Noviar Rahmad menyampaikan data kejadian laka laut selama tahun 2025. Mulai 1 Januari hingga 31 Agustus total terdapat 62 kejadian dengan jumlah korban 107 orang yang ditangani oleh Satlinmas Rescue Istimewa (SRI). Korban selamat 92 orang, ditemukan meninggal dunia 10 orang dan korban hilang atau tidak ditemukan sebanyak 3 orang.


"Data yang September ini belum masuk," jelasnya.


Mayoritas laka laut terjadi karena kecepakaan saat berenang maupun kapal tenggelam. Mereka yang kecelakaan saat berenang kebanyakan karean tidak mematuhi imbauan petugas.


Sementara itu, puluhan nelayan di Pantai Baron, Kapanewon Tanjungsari, mendapat pembekalan khusus tentang teknik bertahan hidup di laut. Pembekalan ini langsung didampingi Satlinmas Rescue Istimewa Wilayah II Baron bersama Dinas Kelautan dan Perikanan Gunungkidul.


Koordinator Satlinmas Rescue Istimewa Wilayah II Baron Marjono mengatakan, pembekalan diikuti 25 nelayan dari ratusan nelayan yang beraktivitas di kawasan Baron. Para peserta diharapkan menjadi perpanjangan tangan untuk menyebarkan pengetahuan keselamatan kepada rekan-rekannya. “Materinya terkait teknik bertahan hidup saat kapal tenggelam, praktik penyelamatan korban di laut, dan cara bertahan mengapung,” jelas Marjono saat dihubungi, Kamis, (18/9).


Menurutnya, banyak kecelakaan laut terjadi akibat kelalaian. Seperti tidak membawa pelampung atau mengabaikan kondisi gelombang dan arah angin. Marjono mengingatkan, meski nelayan Baron sudah puluhan tahun melaut, keselamatan tetap nomor satu. Menurutnya jangan sampai sikap menyepelekan itu justru berujung pada tragedi. Ia berharap pembekalan ini dapat meningkatkan disiplin nelayan dalam menjaga keselamatan. “Setelah pembekalan, para peserta terlihat cepat memahami teknik penyelamatan. Tapi pengingat dan pendampingan tetap penting agar mereka lebih waspada,” ujarnya.


Sementara itu, Kepala Bidang Perikanan Tangkap Dinas Kelautan dan Perikanan Gunungkidul Wahid Supriyadi menyebut, kegiatan ini juga dilengkapi dengan materi Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K). Program serupa akan digelar di beberapa lokasi lain. Pada akhir bulan ini, kata Wahid, pelatihan akan diberikan terhadap nelayan di Pantai Ngrenehan. Pembekalan serupa juga akan menyasar nelayan di Pantai Gesing pada Oktober mendatang.


Wahid berharap program ini mampu menekan risiko kecelakaan laut di wilayah selatan Gunungkidul yang dikenal dengan ombak tinggi dan cuaca sulit diprediksi. Menurutnya keselamatan nelayan harus jadi prioritas utama. “Tujuannya bukan hanya mengasah kemampuan, tapi juga memberi bekal nyata bagaimana menghadapi kondisi darurat di laut,” terang Wahid. (oso/bas/pra/zam)

Editor : Herpri Kartun
#Satlinmas Rescue Istimewa #BPBD #laka laut #BMKG