Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Jangan Sekadar Bagi Makanan, Utamakan Gizi: Terkait Pro Kontra MBG, Pakar Dorong Refocusing Sasaran

Fahmi Fahriza • Jumat, 9 Mei 2025 | 05:14 WIB
Para siswa saat menerima program MBG.
Para siswa saat menerima program MBG.

JOGJA - Program makan bergizi gratis (MBG) yang digagas pemerintah pusat, dalam beberapa bulan ini implementasinya telah menuai pro kontra dari publik.

Mulai dari adanya kasus keracunan makanan, hingga vendor penyedia makanan yang belum dibayar oleh penyelenggara program di beberapa daerah.

Merespons hal tersebut, Pakar Gizi dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada (FK-KMK UGM) Dr Toto Sudargo menyampaikan, terlepas dari pro dan kontra pada program ini, ia menilai bahwa MBG ini layak didukung dan punya potensi besar.

"Salah satunya potensi untuk mengatasi masalah stunting jika dilaksanakan dengan tepat sasaran dan profesional," katanya, Kamis (8/5/2025).

Menurutnya, refocusing atau pemetaan kembali target penerima program ini jadi hal yang krusial.

Ia menuturkan, salah satu kunci efektivitas dan keberhasilan MBG adalah penargetan yang spesifik, salah satunya kepada kelompok yang paling membutuhkan.

"Kelompok tersebut seperti ibu hamil, ibu menyusui, anak balita, dan remaja putri," ujarnya.

Menurutnya, sangat penting untuk memberikan dan mengutamakan gizi yang cukup dan berimbang bagi remaja putri, agar kelak menjadi ibu yang sehat dan tidak rentan penyakit.

"Kalau remaja putri bisa ditargetkan di sekolah, lalu untuk kelompok ibu hamil dan menyusui bisa melalui kerja sama dengan posyandu," ujarnya.

Dalam implementasinya, ia menyebut MBG harus menyumbang minimal sepertiga dari kebutuhan gizi harian, terutama protein sebagai faktor pertumbuhan utama.

"Protein itu growth factor. Itu yang paling utama karena selama ini yang tercukupi hanya karbohidrat," jelasnya.

Baca Juga: Kecuali Sleman, Siaga Darurat Hidrometeorologi di DIY Tidak Diperpanjang: Ini Alasannya...

Toto juga menekankan, indikator keberhasilan program ini tidak hanya tergantung pada jumlah makanan yang diberikan, tetapi juga bagaimana kualitas dan daya terima anak-anak terhadap makanan tersebut.

"MBG itu jangan lihat volumenya, tapi juga kualitas. Sedikit tapi habis lebih baik daripada banyak tapi sisa," pesannya.

Selanjutnya, untuk mensiasati kebiasaan makan anak-anak yang cenderung pemilih, Toto menyarankan agar menu MBG dibuat menarik dan sesuai tren.

"Buat yang kecil-kecil tapi enak. Misal bola-bola daging atau makanan kekinian yang disukai anak-anak," sarannya.

Terpisah, salah satu orang tua siswa, Ardiana Dewi menuturkan, terkait menu masih kurang disukai sang anak.

"Anak saya cerita kalau kadang menunya kurang sesuai, dia cuma makan lauk atau buahnya saja," bebernya.

Dia menyebut, ide untuk menyesuaikan menu dengan beberapa pendekatan yang lebih relevan, atau kekinian dinilai jadi alternatif yang bisa dicoba.

"Mungkin memang harus dicoba variasi menu. Dari segi tampilan, yang mungkin lebih menarik dan disukai anak-anak juga," tandasnya. (iza/wia)

Editor : Winda Atika Ira Puspita
#Refocusing Sasaran #program mbg #Makan Bergizi Gratis #pro kontra #utamakan gizi