Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Gempa Megathrust Akan Terasa hingga DIY, Dengan Magnitudo M9 Bisa Menyebabkan Tsunami

Fahmi Fahriza • Kamis, 22 Agustus 2024 | 04:05 WIB

Foto dosen dan peneliti Geologi Gempa Bumi, Departemen Teknik Geologi Fakultas Teknik UGM Dr. Gayatri Indah Marliyani.Dokumen pribadi 
Foto dosen dan peneliti Geologi Gempa Bumi, Departemen Teknik Geologi Fakultas Teknik UGM Dr. Gayatri Indah Marliyani.Dokumen pribadi 
 

 

RADAR JOGJA – Wilayah DIY termasuk dalam kawasan rawan terdampak gempa megathrust. Karena memiliki area yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia di bagian selatan. Lokasi zona subduksi ini berada sekitar 250km di selatan pantai selatan DIY.

"Jika gempa berkekuatan lebih dari magnitudo M9, maka guncangan yang kuat akan terasa sampai DIY," ujar dosen dan peneliti Geologi Gempa Bumi, Departemen Teknik Geologi Fakultas Teknik UGM Dr. Gayatri Indah Marliyani kepada Radar Jogja, Rabu (21/8)


Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) beberapa waktu lalu memperingatkan terkait potensi munculnya Gempa Megathrust di Indonesia.
Gayatri menjelaskan, Gempa Megathrust adalah gempa besar yang bisa menyebabkan tsunami, gempa ini terjadi pada batas zona subduksi. Kekuatan magnitudonya biasanya lebih dari M9.

Sejarah gempa megathrust yang terakhir ada di Indonesia itu gempa bumi dan tsunami Aceh pada 2004. "Namun, dari bukti geologi gempa megathrust, sebelum peristiwa Aceh 2004 juga pernah terjadi di masa lampau," sambungnya.

Ia menerangkan, potensi gempa megathrust ada di daerah zona subduksi. Di Indonesia zona subduksi berada di wilayah lepas pantai barat Sumatera dan memanjang ke arah timur, menerus hingga Selat Sunda, di lepas pantai selatan Jawa, terus ke timur hingga lepas pantai selatan pulau Lombok.

Lalu, zona subduksi lain di Indonesia berada di bagian utara Pulau Sulawesi dari Manado dan Kepulauan Sangihe. Menurut dia, kesadaran adanya potensi bahaya gempa bumi dan tsunami di wilayah ini harus ditingkatkan. "Lalu, jika terjadi tsunami, daerah pesisir pantai dengan ketinggian kurang dari 30 meter juga beresiko terkena dampaknya," lanjutnya.

Dikatakan, untuk mengetahui jarak aman, dipengaruhi oleh beberapa hal, salah satunya adalah ketinggian topografi. Jika dekat dengan bibir pantai, tetapi ketinggian dari muka laut sudah lewat dari 30 meter, maka relatif sudah aman.  "Ini harus diketahui, perulangan gempa dan tsunami tidak terprediksi, bukan berarti akan terjadi esok hari atau lusa," paparnya.

Gayatri menekankan, adanya informasi potensi bahaya harus disikapi sebagai pengingat bagi semua, bahwa sebagaian besar wilayah Indonesia berada di kawasan rawan bencana. "Kita harus waspada, harus tahu apa yang dilakukan jika gempa terjadi, dan bagaimana upaya menyelamatkan diri jika terjadi peristiwa itu," lontarnya.

Sejauh ini, pemerintah belum memberi imbauan resmi terkait mitigasi dini yang perlu dilakukan masyarakat. Ia berpesan, upaya preventif yang bisa dilakukan masyarakat seperti mengetahui tanda-tanda terjadinya gempa yang berpotensi tsunami, mengetahui akses dan jalur evakuasi, serta tidak menempati area berisiko tinggi dari dampak gempa dan tsunami.

Lalu, upaya lain yang bisa dilakukan pemerintah antara lain membangun selter tsunami pada area padat penduduk atau padat aktivitas, membangun jalan tegak lurus dengan pantai. Sehingga mempercepat jalur evakuasi, hingga mengurangi penempatan fasilitas umum yang berpotensi menjadi tempat berkumpul orang banyak, seperti pasar, sekolah, atau rumah sakit. Jika potensi sumber bencana dan dampaknya sudah diketahui, maka area dengan potensi dampak terbesar harus dipersiapkan."Serta harus membangun sistem peringatan dini tsunami dengan baik," usulnya.

Diakuinya, hal-hal tersebut tidak bisa dijalankan jika kesadaran masyarakat masih kurang, sehingga edukasi mengenai potensi bencana gempa dan tsunami juga harus terus dilakukan. Namun, harus dengan bahasa yang bisa diterima oleh masyarakat dengan jelas. "Bukan berarti kita harus terus hidup dalam ketakutan, akan tetapi dengan kewaspadaan," tandasnya (iza/pra)

Editor : Satria Pradika
#gempa megathrust #tsunami #potensi gempa #DIY #Pantai Selatan #BMKG