RADAR JOGJA - Pasar rakyat atau pasar tradisional di Kota Jogja saat ini terus berkembang. Fungsinya tidak hanya sekadar sebagai tempat jual beli. Namun berubah sebagai wadah kegiatan anak-anak muda.
Kepala Bidang Pasar Rakyat Dinas Perdagangan Kota Jogja Gunawan Nugroho Utomo mengatakan, semakin banyaknya anak muda yang berkegiatan di pasar rakyat sangat berdampak bagi kelestarian pasar tradisional. Sebab, aktivitas pasar tradisional akan terus hidup seiring berkembangnya zaman, di samping fungsi utamanya sebagai tempat jual beli.
“Kelestarian pasar rakyat di Kota Jogja sangat bergantung pada kehadiran anak-anak muda di pasar,” ujar Gunawan saat ditemui Jumat (19/7) lalu.
Dia pun mengapresiasi mulai banyaknya inisiatif dari anak-anak muda yang rutin melaksanakan kegiatan di pasar tradisional. Sebut saja Fight Club YK yang dilaksanakan pada area Pasar Aneka Satwa dan Tanaman Hias Yogyakarta (PASTHY).
Kegiatan yang berbentuk seperti kompetisi tinju itu sangat ampuh untuk menarik minat anak-anak muda untuk datang ke pasar tradisional. Meskipun tidak ada aktivitas jual beli dalam kegiatan itu, setidaknya anak-anak sudah mengenal tentang pasar tradisional. Lalu lambat laun akan mengerti tentang fungsi dan saja aktivitas yang dilakukan.
Gunawan pun memastikan, Pemkot Jogja melalui Dinas Perdagangan akan terus melakukan revitalisasi pasar-pasar rakyat. Sehingga aktivitas yang ada di pasar tradisional bisa nyaman dilakukan oleh semua lapisan masyarakat. "Tidak terkecuali bagi anak-anak muda," katanya.
Menurutnya, hingga saat ini sudah ada dua pasar tradisional yang direvitalisasi dan dikemas secara modern. Yakni Pasar Prawirotaman dan Pasar Sentul. Kedua pasar rakyat itu tidak sebatas hanya memiliki lapak-lapak bagi para pedagang. Namun juga sarana bagi anak muda seperti coworking space, ruang podcast, dan spot kuliner kekinian.
Selain itu, kedua pasar itu pun tidak jarang digunakan sebagai wadah untuk menampilkan kreativitas anak muda. Misalnya pameran fotografi dan konser musik. “Selain Pasar Sentul dan Prawirotaman, Pasar Terban juga tengah berproses untuk revitalisasi,” tambah Gunawan.
Dalam upaya mengembangkan pasar tradisional, ia menyebut, tidak hanya sebatas bangunan fisik saja. Namun juga perlu revitalisasi sosial dengan menggandeng paguyuban pasar dan berbagai komunitas.
Hal itu penting dilakukan agar pasar tradisional tidak hanya berfungsi sebagai lokasi jual beli yang memiliki keunggulan tawar menawar. Namun juga tempat bertumbuhnya ekonomi kreatif, sekaligus sebagai wadah bagi anak-anak muda menyalurkan bakat dan kreativitasnya.
“Dengan revitalisasi sosial, harapannya revitalisasi fisik nantinya dapat berjalan efektif,” tegas Gunawan. (inu/laz)
Editor : Satria Pradika