Jogja Sleman Bantul Gunungkidul Kulon Progo Sport Jogja 24 Jam Weekend Jateng Nusantara Internasional Ekonomi Education Expo Ramadan Sosok Opini Visual Report Urban Legend

Kafe Jadi Pelarian Mahasiswa di Jogja karena Minimnya Fasilitas Kampus

Delima Purnamasari • Senin, 24 Juni 2024 | 14:00 WIB
Sholichah.Dok Pribadi 
Sholichah.Dok Pribadi 

 

RADAR JOGJA - Banyaknya mahasiswa yang menjadikan kafe sebagai tempat nugas (sekaligus nongkrong), karena dampak dari kampus yang minim memberi fasilitas. Untuk waktu di kampus sangat terbatas, padahal mengerjakan tugas sering sampai larut malam.


"Kalau kampus mau memfasilitasi dengan benar, bisa buka 24 jam, aku akan lebih milih di kampus. Bisa menghemat uang juga,” ujar salah seorang mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Sholichah.


 Ia menilai kampusnya juga tidak memiliki banyak ruang publik yang memadai. "Perpustakaan aja tutup jam 4 sore, apa yang bisa diharapin?,” ujarnya.


 Sholichah menjelaskan kampusnya tutup pukul 22.00. “Sering diusir kalau udah jamnya,” tambahnya.


 Perempuan 23 tahun ini mengaku hampir setiap hari datang ke kafe untuk mengerjakan tugas ataupun rapat organisasi. Dirinya akan datang ke kafe sekitar pukul 19.00 atau 20.00. Lalu baru akan pulang jam 00.00 atau 01.00.


 Perilaku ini membuatnya menghabiskan banyak uang saku untuk di kafe. Untuk membeli kopi saja ia merogoh kocek sekitar Rp20 ribu-Rp 25 ribu.


 “Kafe itu ada tingkatannya ya. Ada yang merakyat, menengah, dan mahal. Kalau sendiri aku pergi ke yang mahal dan kalau rapat ke yang merakyat itu,” tuturnya.


Menurut Sholichah, ketika kafe memiliki harga kopi yang mahal, sesungguhnya ia tengah membeli suasananya. “Aku enggak bisa mengerjakan sesuatu di keramaian. Jadi, harus pilih-pilih kalau lagi nugas sendiri.”


 Ia mengaku kebiasaan datang ke kafe ini membuatnya mesti mengurangi porsi makan. “Kita setuju buat ngopi dengan harga 20 ribu ke atas, tapi kita makannya hemat. Itu sudah jadi rahasia umum di kalangan mahasiswa,” jelas mahasiswa Sastra Inggris ini.


 Menurutnya, ini juga jadi alasan mahasiswa hanya memesan satu minuman untuk berlama-lama di kafe, karena uang makannya telah dialokasikan di tempat yang lebih murah. Misalnya warmindo.


Solichah sendiri juga mengaku beberapa kali tidak memesan apapun ketika datang ke kafe. "Biasanya cuma sebentar karena ada orang yang pengen ditemui. Jadi, mampir aja," tambahnya. (cr1/laz)

 

Editor : Satria Pradika
#Mahasiswa #Fasilitas Kampus #UAD #nongkrong #Kafe