Meski begitu, keinginannya terasa sulit sebab kondisinya sebagai penyandang difabel netra.
“Gedung di sini belum ada akses jadi engga bisa kalau tuna netra total. Mba enggak ada gitu sisa penglihatan dikit-dikit?”
Rena menirukan ucapan pegawai yang menolaknya sebagai customer service, padahal di informasi lowongan kerja, tertera perusahaan tersebut membutuhkan pegawai difabel.
Itu hanyalah satu diskriminasi yang dirasakan oleh Rena Setyo Maryana,29.
Ia adalah Mahasiswi semester dua UNY yang tengah menempuh pendidikan magister di Jurusan Pendidikan Luar Biasa.
Sebelumnya, ia memperoleh gelar sarjana pada Jurusan Sastra Inggris di Universitas Dian Nuswantoro, Semarang.
Rena tidak netra sejak lahir. Ia kehilangan penglihatannya secara perlahan ketika duduk di bangku SMA. Kala itu, ia sedang berlatih taekwondo dan terjatuh.
Selang beberapa hari, matanya merah. Sempat disangka belekan semata, tetapi ketika dilakukan pemeriksaan ternyata matanya mengalami peradangan syaraf.
“Aku sempat dikira pemabuk karena biasanya penderita peradangan syaraf mata itu peminum alkohol, padahal aku engga pernah. Setelah ketemu banyak dokter, ternyata ditemukan ada autoimun, tapi alhamdulillah organ yang lain masih aman,” ujar anak bungsu tiga bersaudara ini.
Penglihatannya mulai berkurang pada tahun 2014.
Baca Juga: Waspada! Ini Dia 3 Bahaya CO2 pada Tubuh Manusia
Sejak saat itu, hari-harinya disibukan dengan berbagai terapi, tetapi kondisinya cenderung stagnan.
Ia menjadi netra total pada tahun 2016.
“Alhamdulillah enggak sampai mengurung diri. Mau marah juga belum tentu bisa bikin balik matanya, kalau maksain berobat kasian ibu, udah tua. Bapak juga sudah engga ada. Ibuku harus nganter aku sampai kemana lagi?” Rena mengenang masa lalunya.
Ada keluarga yang sempat mengira ia diguna-guna dan menyarankan pengobatan alternatif, tetapi ia tolak.
Rena merasa sudah bisa menerima keadaan sebab ada kampus-kampus yang mau menerima kondisinya.
Rena tak menampik bahwa menjadi difabel netra terkadang menghambat prosesnya belajar.
Ia mengalami kesulitan dalam beberapa mata kuliah.
Salah satunya adalah ketika masih sarjana pada Mata Kuliah Subtitling.
Ia diminta memberikan terjemahan pada sebuah video. Beruntung selalu ada kawan-kawan yang mau membantu.
Walaupun demikian, ia merasa materi-materi yang diperolehnya tetap bisa tercukupi.
Mahasiswa semester dua ini merasa bersyukur sebab selalu ada rezeki dalam menempuh pendidikan.
Ketika sarjana ia memperoleh beasiswa dari rektor, sedangkan ketika magister, ia lolos sebagai penerima beasiswa LPDP.
Suami Rena juga penyandang difabel netra. Keduanya telah dikaruniai seorang putra yang kini berusia empat tahun.
Ketika lahir, putranya diurus oleh sang nenek sembari Rena beradaptasi.
Baru ketika putranya menginjak usia enam bulan, ia mulai bisa memandikan dan menyuapi.
Ketika usia sepuluh bulan, Rena dan suami sudah benar-benar mandiri.
Anaknya tidak memiliki hambatan yang sama layaknya Rena dan suami.
Perilakunya yang begitu aktif jadi tantangan tersendiri bagi pasangan suami istri ini.
Utamanya adalah ketika harus memotong kuku karena hanya bisa dilakukan malam hari saat si anak tidur.
Keduanya sudah fasih melakukannya hanya dengan meraba.
Untuk membersihkan telinga, mereka akan membawanya ke dokter.
“Suami kalau ngejar anak langkahnya lebih panjang daripada aku meski pelan. Suaranya juga lebih kenceng jadi waktu dipanggil anaknya tahu,” ujar Rena.
Keduanya telah menguasai orientasi mobilitas di rumahnya.
Kegiatan rumah tangga, seperti mencuci baju, memasak, dan beres-beres bisa dilakukan tanpa kendala.
Rena selalu memberi pemahaman kepada putranya bahwa kedua orang tuanya adalah penyandang netra.
Terkadang, putra kecilnya mengeluh lelah apabila dimintai bantuan dan mengadu ingin memiliki ibu yang bisa melihat.
Rena hanya menjawab sang putra harus mencari ibu baru.
“Ya udah gapapa, ibu aja yang engga lihat,” ujar Rena menirukan ucapan putranya sembari tertawa.
Rena menjelaskan, bahwa kondisinya bisa dialami oleh siapapun mengingat keadannya diperparah gaya hidup tak sehat.
Misalnya, mengonsumsi minuman kemasan dan memaksakan tubuh ketika bekerja.
Kini, selain disibukan dengan kuliah dan mengurus anak, Rena turut membagikan kesehariannya sebagai penyandang difabel netra, seperti cara memasang gas, memasukan token listrik, sampai menjahit melalui akun Youtube @cararena5888.
Video tersebut diambil dan diedit oleh sang suami.
Editor : Bahana.